Terkoreksi ini di tengah pengumuman pertumbuhan ekonomi tumbuh 7,07 persen oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, perekonomian global pada kuartal II-2021 mengalami peningkatan, terlihat dari pergerakan indeks PMI global dari 54,8 menjadi 56,6 pada Juni 2021.
Data yang dikeluarkan BPS dan juga diolah Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, produksi beras pada Juni mencapai 2,59 juta ton ditambah stok yang ada menjadi 10,6 juta ton pada posisi akhir Juni 2021 dan prognosa stok akhir Desember 2021 sebesar 9,6 juta ton.
Berdasarkan catatan BPS, Kementan dibawah pimpinan Syahrul Yasin Limpo berhasil menjaga situasi pangan nasional dalam keadaan aman dan terkendali.
Adapun secara kumulatif, ekspor nonmigas selama Januari-Juni mengalami kenaikan sebesar 94,35 persen, dimana sektor pertanian mencapai 1,95 dollar atau mengalami peningkatan sebesar 14,05 persen.
Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa sebanyak 14,75 juta orang.
Surplusnya neraca dagang dikarenakan kinerja ekspor yang tinggi dibandingkan impor.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor hasil pertanian selama Januari-Mei 2021 mengalami kenaikan tinggi, yakni sebesar 13,39 persen.
Syarief Hasan menilai, target tinggi dan tidak konsisten yang dibuat dan disampaikan oleh Pemerintah kepada publik kurang relevan dengan kondisi Indonesia hari ini.
Komisi II DPR RI meminta Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menertibkan data kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) bisa terintegrasi dengan data di Badan Pusat Statistik (BPS).