News

Imbas Demo Biaya Hidup di Prancis, Menara Eiffel Ditutup

Menara Eiffel ditutup bagi pengunjung pada Kamis (5/11) akibat aksi mogok kerja nasional di Prancis.
Seorang turis memegang payung untuk melindungi dirinya dari matahari saat berjalan di alun-alun Trocadero di sebelah Menara Eiffel di Paris, Prancis, 1 Juli 2025. REUTERS

Jakarta, Jurnas.com - Menara Eiffel ditutup bagi pengunjung pada Kamis (5/11) akibat aksi mogok kerja nasional di Prancis, sementara aksi unjuk rasa juga berlangsung di berbagai wilayah negara itu.

"Akibat aksi mogok kerja nasional, Menara Eiffel ditutup hari ini," demikian pengumuman di situs web resmi landmark tersebut.

Hingga pukul 13.00 waktu setempat (atau pukul 19.00 WIB), dilaporkan 270.000 pengunjuk rasa berpartisipasi dalam 180 aksi unjuk rasa di seluruh Prancis, kecuali Paris, menurut laporan saluran televisi Prancis BFM TV, mengutip sumber-sumber yang dekat dengan menteri dalam negeri negara itu.

Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Nasional Prancis, sebanyak 15,81 persen guru melakukan aksi mogok kerja pada Kamis, lapor BFM TV. Sementara itu, hampir 33 persen lembaga pendidikan tinggi terganggu oleh gerakan tersebut hingga tengah hari, yang memengaruhi 60 dari 184 lembaga di negara itu.

Diberitakan sebelumnya bahwa 780.000 orang diperkirakan turun ke jalan atau demo di berbagai wilayah Prancis pada Kamis untuk memprotes tingginya biaya hidup. Pemerintah mengerahkan sekitar 70.000 polisi dan personel gendarmerie guna mengamankan aksi yang melibatkan pekerja, pegawai negeri, pensiunan, mahasiswa, pelajar, hingga kelompok Yellow Vests.

Menurut laporan stasiun televisi Prancis BFMTV, kelompok gabungan serikat pekerja memperkirakan jumlah demonstran di luar Paris mencapai 500.000 hingga 700.000 orang. Sementara itu, sekitar 40.000 hingga 80.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi di ibu kota.

Massa aksi menuntut kenaikan upah serta kebijakan untuk meningkatkan daya beli masyarakat di tengah tingginya biaya hidup. Gerakan demonstrasi mahasiswa sendiri telah berlangsung sejak pertengahan September.

Besarnya jumlah peserta membuat aparat menyiapkan pengamanan dalam skala besar. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan pada Rabu bahwa pengerahan personel dan perangkat keamanan akan "sama persis" dengan pengamanan demonstrasi pada 31 Oktober.

Sebanyak 26 kendaraan lapis baja, sekitar 15 kendaraan meriam air, helikopter, dan drone disiapkan untuk mendukung operasi. Aparat juga melibatkan unit kepolisian khusus, termasuk BRI, RAID, dan GIGN.