News

Demo di Prancis Berujung 448 Penangkapan, 53 Polisi Terluka

Gelombang demonstrasi nasional di Prancis berujung pada 448 penangkapan dan menyebabkan 53 anggota kepolisian terluka
Demonstrasi di Prancis (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Gelombang demonstrasi nasional di Prancis berujung pada 448 penangkapan dan menyebabkan 53 anggota kepolisian terluka. Aksi yang diikuti ratusan ribu orang itu digelar untuk memprotes persoalan upah dan meningkatnya biaya hidup.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hingga pukul 18.00 waktu setempat, sebanyak 448 orang telah ditangkap. Selain itu, tercatat 53 personel penegak hukum terluka dan 86 insiden kebakaran terjadi selama rangkaian demonstrasi.

Meski demikian, pemerintah menyebut aksi-aksi yang telah mendapat izin secara umum berlangsung tertib dan sebagian besar berjalan damai. Ketegangan dilaporkan terjadi di sejumlah kota, terutama Paris, Lyon, Rennes, dan Toulouse.

Kementerian Dalam Negeri memperkirakan jumlah peserta demonstrasi mencapai 575.000 orang di seluruh Prancis, termasuk 65.000 orang di Paris. Angka tersebut merupakan revisi turun dari perkiraan sementara sebelumnya yang mendekati 600.000 orang.

Namun, Konfederasi Umum Buruh (CGT) mencatat jumlah peserta jauh lebih besar, yakni hampir 1,6 juta orang secara nasional. Serikat pekerja itu memperkirakan sekitar 350.000 orang mengikuti aksi di ibu kota.

Sekretaris Jenderal CGT Sophie Binet menyebut pemogokan tersebut sangat efektif dan meminta pemerintah menanggapi tuntutan para pekerja. Saat berorasi dalam demonstrasi di Paris, ia menegaskan, “Tidak ada yang akan menghentikan kami.”

Binet juga mendesak kenaikan upah bagi seluruh pekerja serta peningkatan upah minimum sebesar 10 persen.

Di tengah gelombang protes tersebut, Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengumumkan rencana menggelar konferensi sosial bersama serikat pekerja dan organisasi pengusaha pada Senin mendatang. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung di Matignon, berdasarkan pernyataan pemerintah.

Dampak pemogokan juga terasa di sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Tinggi melaporkan aktivitas di 60 dari total 184 institusi pendidikan tinggi mengalami gangguan.

Sementara itu, serikat pekerja SNES-FSU memperkirakan tingkat partisipasi mogok di kalangan tenaga pendidik sekolah menengah pertama dan atas mencapai 52 persen.

Di beberapa kota, polisi turut melakukan intervensi untuk membubarkan blokade mahasiswa, termasuk di Paris dan Bordeaux, menurut laporan media setempat.

Aksi nasional tersebut berlangsung di tengah gerakan mahasiswa yang telah dimulai sejak pertengahan September. Gerakan itu mengangkat persoalan kondisi pendidikan, pendanaan, serta kekurangan tenaga pengajar. (*)

Sumber: Anadolu