Pyongyang, Jurnas.com - Korea Utara membantah keras tuduhan Amerika Serikat (AS) yang menyebut Pyongyang berada di balik aksi peretasan aset kripto senilai US$6,3 miliar pada platform Binance. Pemerintah Korea Utara mengecam klaim tersebut sebagai retorika konyol dan provokasi politik yang berat.
Tuduhan dari Washington ini mencuat setelah Biro Penyelidik Federal (FBI) menyatakan bahwa kelompok peretas TraderTraitor yang terafiliasi dengan Pyongyang bertanggung jawab atas aksi pencurian terbesar dalam sejarah tersebut.
Menanggapi hal itu, Kim Yo Jong, adik dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menegaskan bahwa tuduhan AS membuktikan sikap permusuhan yang terus berlanjut terhadap negaranya, sebagaimana dikutip dari CNA pada Selasa (3/11).
Para analis dan pakar keamanan siber menilai bahwa pencurian mata uang kripto telah menjadi salah satu saluran utama bagi Korea Utara untuk mengumpulkan dana pemeliharaan rezim serta pengembangan program senjata nuklir dan rudal balistiknya.
Lembaga analisis blockchain Elliptic memperkirakan total pencurian kripto oleh Korea Utara telah menembus angka US$7,6 miliar sepanjang tahun ini. Selain itu, data dari Chainalysis menunjukkan bahwa 89 persen dari total kerugian akibat aksi peretasan kripto secara global pada 2026 terhubung dengan kelompok peretas asal Korea Utara.
Bank Sentral Korea Selatan memperkirakan total Produk Domestik Bruto (PDB) Korea Utara berada di angka 47,18 triliun won atau setara US$35,09 miliar. Dengan demikian, nilai peretasan pada platform Binance sebesar US$6,3 miliar tersebut diperkirakan setara dengan sekitar seperenam dari total output perekonomian negara tersebut.
Di sisi lain, platform bursa kripto Binance melaporkan bahwa kondisi operasional perusahaan serta aktivitas penarikan dana nasabah saat ini sudah mulai menstabil. Pihak bursa terus memantau perkembangan sistem keamanan pascainsiden peretasan berskala besar tersebut.





