Washington, Jurnas.com - Tingkat pemulihan penderita Long Covid-19 yang menyerang berbagai sistem organ atau multiorgan tercatat jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan umum.
Berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine pada 2 November, kurang dari satu dari lima penderita dengan gangguan multiorgan mengalami perbaikan kondisi secara berkelanjutan dalam waktu tiga tahun setelah terinfeksi.
Sebaliknya, penderita yang gejalanya didominasi oleh gangguan indra penciuman atau perasa menunjukkan peluang perbaikan hingga 60 persen.
Penelitian yang merupakan bagian dari inisiatif Recover bentukan US National Institutes of Health ini memantau 1.019 orang dewasa yang masih berpotensi mengalami Long Covid-19 satu tahun setelah infeksi awal.
Secara umum, sekitar separuh peserta menunjukkan perbaikan gejala secara berkelanjutan selama tiga tahun berikutnya, dengan seperempat di antaranya mencapai remisi atau kesembuhan penuh. Kondisi ini dapat memicu kelelahan (fatigue), gangguan kognitif (brain fog), pusing, jantung berdebar, sesak napas, hingga post-exertional malaise tanpa adanya pengobatan resmi yang disetujui.
Kritik Sistem Penilaian dan Klasifikasi Penyakit
Temuan studi ini mendapat perhatian khusus dari para pakar independen yang mengkritik metode penilaian gejala. Direktur Clinical Epidemiology Centre di VA St. Louis Health Care System, Ziyad Al-Aly, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai sistem penilaian memberikan bobot yang terlalu besar pada hilangnya indra penciuman atau perasa serta batuk kronis. Menurutnya, meskipun khas bagi infeksi awal, gejala tersebut bukan fitur utama dari penyakit kronis yang memengaruhi banyak organ.
"Kelompok multiorgan ini adalah penyakit yang sama sekali berbeda," kata Al-Aly dikutip dari Bloomberg pada Selasa (3/11). "Inilah Long Covid sesungguhnya yang akan bertahan lama, dan pasien-pasien ini tampaknya tidak menunjukkan tren pemulihan yang kuat," dia menambahkan.
Tantangan Validasi Indeks dan Fluktuasi Gejala
Selain masalah pembobotan gejala, definisi pemulihan itu sendiri masih menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan. Indeks gejala yang digunakan dalam studi ini dikembangkan menggunakan data dari inisiatif Recover dan belum divalidasi secara independen pada populasi lain, menurut Nisreen Alwan, Profesor Kesehatan Masyarakat di University of Southampton.
Kondisi pasien Long Covid-19 kerap berfluktuasi, di mana periode perbaikan sering kali diikuti oleh kekambuhan (relapse). Alwan dan rekannya berpendapat dalam jurnal BMJ pada bulan Juni bahwa definisi yang tidak konsisten membuat sulit untuk membedakan pemulihan yang bertahan lama dari pemulihan sementara.






