News

Eropa Panik, Serangan Siber Lumpuhkan Sistem Kulkas Supermarket

Serangan siber diduga berada di balik lumpuhnya sistem kulkas supermarket di Eropa.
Ilustrasi supermarket di Eropa (Foto: Reuters)

Brussels, Jurnas.com - Gelombang serangan siber melanda sistem kulkas di berbagai supermarket di Eropa pada Senin (2/11). Insiden tersebut memicu kekacauan rantai pasokan makanan setelah suhu pendingin melonjak tajam dalam semalam, yang memaksa para peritel membuang produk pangan yang membusuk.

Uni Eropa mengecam keras aksi ini sebagai upaya sengaja untuk mengganggu pasokan pangan masyarakat. Setidaknya delapan negara terdampak, mencakup Belgia, Finlandia, Estonia, Irlandia, Luksemburg, Belanda, Swedia, hingga Portugal.

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab atas insiden tersebut maupun serangan serupa pada 12 Oktober lalu yang melumpuhkan jaringan ritel besar di Prancis.

"Serangan ini adalah upaya sengaja untuk mengganggu rantai pasokan makanan kami dan merusak kepercayaan konsumen, sebuah peringatan yang harus kita tanggapi dengan serius," kata Christophe Hansen dikutip dari AFP pada Selasa (3/11).

Penyelidikan Insiden dan Pengakuan Pihak Ritel

Di Belgia, di mana puluhan toko kelontong mengalami gangguan sistem pendingin, jaksa federal telah mengumumkan pembukaan penyelidikan resmi. Meskipun pihak berwenang belum mengualifikasikan insiden tersebut secara hukum, beberapa pengelola ritel secara terbuka mengonfirmasi adanya peretasan.

Juru bicara Carrefour Belgia, Mich Vergauwen, mengungkapkan bahwa gangguan terjadi di sekitar 15 dari 700 toko milik perusahaan. "Ini adalah serangan siber, tidak ada alasan lain," ujar Mich Vergauwen. Nada serupa disampaikan oleh perwakilan Ikea Belgia yang melaporkan lonjakan suhu freezer secara mendadak di gerai mereka di Mons.

Dampak insiden ini merambat luas ke berbagai negara anggota Uni Eropa. Musgrave di Irlandia melaporkan 13 gerai Supervalu terdampak, sementara grup Mosqueteiros di Portugal mengonfirmasi peretasan pada tujuh toko Intermarche yang terhubung dengan penyedia layanan eksternal sistem pendingin. Kasus serupa juga ditemukan di Finlandia, Belanda, hingga Estonia, di mana peretas menaikkan suhu pendingin hingga 50°C.

Kerentanan Perangkat dan Pola Serangan Sistemik

Investigasi awal menunjukkan adanya celah keamanan pada sistem kontrol pendingin eksternal dari produsen Denmark, Danfoss, yang juga menjadi sasaran utama dalam serangan di Prancis pertengahan Oktober lalu. Direktur Kitman Coldtech di Estonia, Jann Mutso, mengonfirmasi bahwa unit yang diretas merupakan model lama dari Danfoss dan menegaskan bahwa pola aksinya sama.

Kerentanan juga dipengaruhi oleh infrastruktur jaringan yang digunakan oleh masing-masing toko. Juru bicara jaringan Coop di Swedia, Carlos Cancino, menjelaskan bahwa gerai yang terdampak masih terhubung ke jaringan seluler 4G lama, bukan sistem 5G yang telah diperbarui, sehingga lebih rentan disusupi peretas.

Perwakilan Pusat Keamanan Siber Nasional Finlandia, Roni Kokkola, menyatakan bahwa penyebaran serangan dari Prancis ke negara-negara lain di Eropa memang telah diperkirakan sebelumnya. Saat ini, para pemasok sistem pendingin dan penyedia jasa keamanan siber terus berpacu dengan waktu untuk mengamankan instalasi yang tersisa guna mencegah gangguan susulan.