https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Petrotekno Technical School Papua Barat Ubah Nasib Syahril

Fitriawan Ginting | Selasa, 07/01/2020 14:31 WIB



Pemuda Syahril Rafideso saat pulang ke kampung halaman di Pulau Babo.(Foto :Jurnas/ist).

Jakarta, Jurnas.com- Suasana sejuk nan indah di area Pelabuhan Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, sudah pasti akan menggoda setiap pengunjung. Termasuk seorang pemuda Syahril Rafideso yang pulang ke kampung halaman di Pulau Babo, sebuah distrik yang juga bagian dari Kabupaten Teluk Bintuni. Diketahui, dengan semangat ingin merubah nasib, Syahril yang sudah banyak mencicipi dunia pekerjaan akhirnya mencoba peruntungan dengan menempuh pendidikan di Petrotekno Technical School Bintuni (P2TIM).

“Saya sangat ingin mengubah nasib hidup saya lebih baik lagi sehingga saya putuskan untuk masuk ke Petrotekno Technical School," kata Syahril mengulang masa-masa itu.

Terletak di Km 4 Teluk Bintuni, sekolah Petrotekno Technical School memang punya arti sangat penting bagi seorang Syahril, bapak satu anak ini pun mengungkapkan dengan getir namun penuh semangat.

Baca juga :
Senator Paul Desak Pelaku Pembunuhan Nakes di Tambrauw Serahkan Diri

“Selama tiga bulan, saya digembleng oleh tenaga-tenaga terlatih dari P2TIM dengan pelatihan yang nyata seperti layaknya di dalam industri migas, mulai dari teknik scaffolding, welder, rigging (lifting), belajar Bahasa Inggris, juga belajar matematika, semuanya membuat saya pintar dan jadi paham seperti apa industri migas," tambah Syahril.

Baca juga :
Kemendes PDT Siap Bantu Genjot Pembangunan Desa di Papua Barat

Syahril sendiri termasuk dalam angkatan pertama Petrotekno Bintuni yang hingga kini tercatat telah meluluskan sekitar 400 orang lulusan terbaik. Dalam catatan yang ada, sekolah Petrotekno Bintuni mayoritas berisikan anak-anak Papua, 70 persen di antaranya bahkan merupakan putra asli Bintuni yaitu Subitu atau dikenal juga sebagai Suku Bintuni Bersatu.

“Selebihnya yang bersekolah di Petrotekno adalah orang asli Papua, suku Nusantara dan suku Papua tapi tinggal di luar Bintuni," beber Sarwono Pratomo Satrio, Direktur Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Bintuni di Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga :
Kemensos Setujui Pembangunan Sekolah Rakyat Terpadu di Manokwari

Para siswa yang rata-rata berusia antara lain 19 tahun hingga 35 tahun itu selama lebih dari 3 bulan memang `digembleng` dengan pelatihan dan pendidikan penuh disiplin dari para tenaga ahli yang disiapkan secara khusus oleh Petrotekno.

Para siswa yang masuk di P2TIM Teluk Bintuni dan dioperasikan oleh Petrotekno selain mendapatkan pelatihan dan akomodasi secara cuma-cuma, seluruh biaya hidup dan keperluannya ditangggung juga.

Menariknya, para siswa ini pun bila lulus berhak atas 18 sertifikat berstandar internasional, seperti ECITB dan BNSP. Sebuah pilihan menarik di tengah lebatnya hutan nun jauh dari hingar bingar kota.


Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Petrotekno Technical School Syahril Rafideso Papua Barat

Terkini | Selasa, 19/05/2026 00:12 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777