Ilustri gelombang panas (FOTO: AP PHOTO)
Jakarta, Jurnas.com - Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) menyatakan bahwa lebih dari 900 kematian berlebih tercatat di Belanda saat terjadi gelombang panas baru-baru ini.
Diperkirakan 911 kematian berlebih terjadi antara 22 Juni hingga 5 Juli dibandingkan dengan perkiraan angka kematian pada periode tersebut, ungkap lembaga itu.
Wilayah selatan dan timur negara itu, yang dilanda suhu tertinggi selama gelombang panas tersebut, mencatatkan lonjakan angka kematian terbesar dengan 576 kematian berlebih. Sebanyak 547 dari kematian berlebih tersebut terjadi pada kelompok usia 80 tahun ke atas, yang mencatat peningkatan tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
"Penyebab kematian belum diketahui, namun besar kemungkinan cuaca panas turut berperan. Penting untuk tetap waspada terkait dampak cuaca panas bagi kesehatan," tutur RIVM dalam sebuah pernyataan, dikutip di Jakarta, Kamis (16/7).
Orang dewasa yang lebih tua (older adult) dan penderita penyakit kronis sangat rentan di tengah cuaca panas ekstrem, ujar RIVM, seraya menambahkan bahwa kadar polusi udara yang lebih tinggi selama gelombang panas kemungkinan turut memberikan beban tambahan bagi kelompok rentan.
Data dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) menunjukkan suhu melonjak tajam antara 22 hingga 28 Juni, dengan suhu tertinggi yang tercatat mencapai 39,4 derajat Celsius.
Suhu udara masih tercatat di atas rata-rata musiman di sejumlah wilayah di negara tersebut.
Sejak 11 Juli, RIVM telah mengaktifkan Rencana Panas Nasional (National Heat Plan) di tujuh provinsi di Belanda tengah dan selatan, seraya mengimbau para penyedia layanan kesehatan, pelaku rawat (caregiver), dan pendamping informal agar memberikan dukungan tambahan bagi kelompok rentan.
Kamis, 16/07/2026 16:31 WIB