https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Jazz Gunung, Serunya Menyanyi di Atas Ketinggian 2000 Meter

Eka Wahyu Pramita | Rabu, 04/07/2018 03:02 WIB



Merayakan keragaman selalu menjadi salah satu ciri khas dari Jazz Gunung. Ramaikan Jazz Gunung akhir bulan ini (Foto: Instagram)

Jakarta - Menikmati indahnya semilir jazz dan merdunya kawasan pegunungan telah menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa autentik dari para penonton Jazz Gunung selama sepuluh tahun terakhir.

Perpaduan antara menyaksikan musisi-musisi kampiun beraksi sembari menikmati kesejukan serta dahsyatnya pemandangan alam pegununungan yang beratapkan langit, berdinding cemara serta gemerlap bintang jelas sangat sulit untuk dicari tandingannya dengan festival musik di berbagai belahan dunia lain.

Tak hanya menyuguhkan genre musik jazz semata melainkan pula world music, pop, funk, dub, reggae, soul, R&B hingga folk. Para musisi dan penonton yang hadir selama sembilan tahun terakhir pun berasal dari lintas generasi dan sangat beragam, datang dari berbagai latar belakang profesi, suku bangsa, ras, hingga agama.

Baca juga :
13 Anggota Badan Pengawas WAMI Terpilih, Ada Bongki dan Indra
Tahun ini, genap menginjak satu dasawarsa penyelenggaraan Jazz Gunung. Pergelaran jazz internasional bernuansa etnik yang diadakan di atas ketinggian 2000 meter dari permukaan laut ini akan hadir berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika biasanya hanya dilangsungkan selama dua hari, tahun ini Jazz Gunung akan digelar selama tiga hari berturut-turut mulai tanggal 27, 28 dan 29 Juli 2018 di panggung amfiteater terbuka dengan sistem tata suara kelas dunia yang terletak di Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Jazz Gunung sejatinya merupakan sebuah pertunjukan musik yang selalu menawarkan keakraban antara para musisi dengan para penontonnya.

Baca juga :
Dikta Buka Babak Baru Karier Musik Bertajuk Unapologetic
"Bermain di sebuah festival di alam terbuka pasti akan ada getaran dan respons yang natural, spontan, serta interaksi langsung dengan penonton dan suasana alam sekitar. Udara yang sejuk cenderung dingin menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Semoga jari-jari ini tidak membeku dan suara tidak tercekat. Kami sangat menantikan tampil di Jazz Gunung tahun ini!” ujar Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa.

Selain tampil duo, Endah rencananya juga bakal memperkuat penampilan Bintang Indrianto – Soul of Bromo pada malam sebelumnya, kebetulan ia juga tampil sebagai musisi tamu di album rekaman terbaru Bintang Indrianto.

Baca juga :
Pentas Drama Musikal Sekolah Global Sevilla Soroti Pencarian Jati Diri

Proyek album Soul of Bromo tersebut memang sengaja digarap untuk dirilis sekaligus dimainkan berbarengan dengan Jazz Gunung 2018. Bintang sengaja menginterpretasikan foto-foto lansekap Bromo yang diabadikan oleh salah seorang penggagas Jazz Gunung Sigit Pramono ke dalam komposisi jazz.

Pada tahun ini pula penghargaan khusus Jazz Gunung Award akan dianugerahkan kepada mendiang maestro pianis jazz legendaris Bubi Chen. Sebuah pementasan khusus yang didedikasikan kepada almarhum akan menampilkan beberapa musisi jazz asal kota Surabaya.

Penghargaan yang sudah dilakukan sejak dua tahun lalu ini sebelumnya dianugerahkan kepada mendiang Ireng Maulana pada 2016 dan mendiang Jack Lesmana pada 2017.  

Sejak penyelenggaraannya yang pertama hingga ke sepuluh nanti, tiga orang penggagas Jazz Gunung masih setia bersinergi untuk memberikan suguhan yang terbaik kepada para penonton.

Mereka adalah Sigit Pramono, seorang penggemar berat Bromo yang merupakan mantan bankir nasional yang memiliki hobi fotografi dan mendengarkan jazz, serta dua bersaudara seniman ternama asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto.

Jazz Gunung diawali dari kegelisahan seorang Sigit Pramono yang sering bolak-balik ke Gunung Bromo untuk menyalurkan hobi fotografinya di sana namun kemudian merasa miris menyaksikan pariwisata Bromo hanya diperkenalkan sebagai destinasi untuk menyaksikan matahari terbit saja.

Padahal potensi pariwisata Bromo lebih dari itu. Hal ini berdampak para turis domestik maupun asing hanya berkunjung singkat saja di sana, kurang dari sehari dan kemudian pulang. Menurut Sigit, hal ini tidak banyak memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar kaki gunung Bromo.

Ia kemudian mengajak Butet dan Djaduk untuk menggagas acara Jazz Gunung, dengan harapan para turis akan tinggal lebih lama di Bromo dan menghabiskan lebih banyak uang lagi bagi masyarakat di sekitar sana.  

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Jazz Gunung Bromo Musik

Terpopuler

Kamis, 23/07/2026 04:04 WIB
Gaya Hidup

20 Contoh Ucapan Hari Anak Nasional yang Penuh Makna

Rabu, 22/07/2026 01:01 WIB
Humanika

22 Juli 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777