https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Peneliti Ungkap Penyebaran dan Populasi Manusia dari Afrika

Redaksi | Rabu, 04/04/2018 12:19 WIB



morfologi telinga bagian dalam dapat melacak penyebaran manusia purba pertama berasal dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia. Ilustrasi penyebaran manusia (foto: UPI)

Jakarta – Penelitian yang dilakukan antropolog dari University Zurich menunjukkan morfologi telinga bagian dalam dapat melacak penyebaran manusia purba pertama berasal dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia.

Menggunakan computed tomography, para peneliti mengumpulkan model 3D resolusi tinggi dari labirin bertulang, struktur telinga bagian dalam, dari populasi di seluruh dunia.

Analisis mengungkapkan tingkat bentuk labirin yang lebih besar dalam populasi dibandingkan antar populasi. "Pola variasi khas manusia ini juga diketahui dari data genetika komparatif," kata Marcia Ponce de León, antropolog dari University of Zurich.

Baca juga :
Menag: Iduladha 1447 H Usung Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan

"Itu menunjukkan bahwa semua manusia sangat terkait erat dan berakar di Afrika," tambahnya.

Para peneliti juga menemukan bahwa semakin jauh suatu populasi berasal dari Afrika Selatan, semakin besar kemungkinan labirin tulang penduduk berbeda dari labirin tulang masayarakat Afrika Selatan.

Baca juga :
Marinus Gea Soroti Program HAM di Banten, Minta Penguatan Isu Buruh

Pola ini mencerminkan hubungan yang ditemukan antara perbedaan genetik dan geografis yang diidentifikasi oleh survei genomik sebelumnya.

Studi baru tersebut juga menunjukkan bentuk telinga dalam dari populasi prasejarah dari Kepulauan Sunda di Indonesia memiliki kemiripan paling banyak dengan penduduk asli Papua dan Australia.

Baca juga :
Legislator PDIP Kecam Penangkapan WNI Misi Kemanusiaan Gaza oleh Israel

Sementara itu, labirin tulang penduduk Sunda moderen paling mirip dengan telinga dalam orang-orang dari kepulauan Melayu.

Populasi Eropa dan Jepang memiliki struktur telinga bagian dalam yang paling mirip dengan orang-orang yang tinggal di Eropa dan Jepang selama Zaman Neolitik.

Terlepas dari peran penting yang dimainkan labirin tulang dalam membantu keseimbangan dan pendengaran, evolusi manusia telah memungkinkan sejumlah besar variasi yang mengejutkan di dalam telinga.

"Ini mungkin karena perubahan acak dalam materi genetik," kata Christoph Zollikofer, profesor antropologi di UZH.

"Perubahan tersebut mungkin memiliki sedikit atau tidak ada konsekuensi fungsional, tetapi perubahan struktural yang terkait memberikan catatan sejarah penyebaran dan evolusi manusia."

Karena tulang yang mengelilingi labirin tulang memiliki konsentrasi tinggi DNA yang terlindungi dengan baik, ahli paleontologi sering menambangnya untuk sampel genetik. Sayangnya, proses ini dapat merusak struktur telinga bagian dalam.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Peneliti Berita Unik Manusia Afrika Selatan

Terpopuler

Senin, 13/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Argentina

Minggu, 12/07/2026 05:05 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Prancis vs Spanyol

Senin, 13/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Prediksi Starting XI Timnas Prancis vs Spanyol

Minggu, 12/07/2026 06:06 WIB
Gaya Hidup

12 Contoh Ucapan Hari Koperasi Indonesia 2026 yang Penuh Makna

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777