Ilustrasi Ummu Salamah (Foto: Arina)
Jakarta, Jurnas.com - Di antara deretan Ummul Mukminin (ibu para mukmin), Ummu Salamah RA mencatatkan namanya sebagai salah satu figur perempuan paling berpengaruh, cerdas, dan bijaksana dalam sejarah peradaban Islam.
Bernama asli Hindun binti Abi Umayyah, ia memadukan keturunan bangsawan Quraisy, kedalaman ilmu agama, serta keberanian dan keteguhan iman.
Ummu Salamah berasal dari kabilah Bani Makhzum, salah satu suku Quraisy yang terpandang di Makkah. Ayahnya, Abu Umayyah Suhai bin Al-Mughirah, dikenal luas dengan julukan Zad Ar-Rakib (pemberi bekal para musafir) karena kedermawanannya yang luar biasa.
Karakter dermawan, berwawasan luas, dan berjiwa pemimpin ini kemudian menurun kuat kepada sang putri.
Sebelum menjadi istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad RA. Pasangan suami istri ini termasuk di antara kelompok pemeluk Islam paling awal (Assabiqunal Awwalun) yang mengalami ujian berat di Makkah.
Keduanya ikut serta dalam dua kali gelombang hijrah, yakni ke Habasyah (Etiopia) dan kemudian ke Madinah.
Dalam perjalanan hijrah ke Madinah, Ummu Salamah harus mengalami kepedihan terpisah dari suami dan anaknya selama berbulan-bulan akibat halangan dari kaum kafir Quraisy, sebelum akhirnya dipertemukan kembali.
Duka mendalam dialami Ummu Salamah ketika sang suami, Abu Salamah, gugur akibat luka yang didapat dalam Perang Uhud. Dalam kesedihan tersebut, beliau mengingat ajaran Rasulullah SAW untuk berdoa saat tertimpa musibah agar diberikan ganti yang lebih baik.
Allah SWT kemudian menjawab doa tersebut ketika Rasulullah SAW datang melamarnya untuk menjadikannya sebagai istri dan mengayomi anak-anak yatim peninggalan Abu Salamah.
Sebagai istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah dikenal memiliki ketajaman pemikiran dan kedewasaan politik yang luar biasa. Peran kritisnya terlihat paling menonjol pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyyah.
Kala itu, para sahabat merasa kecewa dan ragu untuk mencukur rambut serta menyembelih hewan kurban karena isi perjanjian yang dinilai merugikan kaum muslimin.
Di tengah kebuntuan tersebut, Ummu Salamah memberikan saran bijak kepada Rasulullah SAW untuk keluar tanpa berkata apa pun, lalu langsung menyembelih kurbannya dan mencukur rambut di hadapan para sahabat.
Ketika melihat tindakan tegas Nabi SAW, para sahabat serta-merta mengikuti jejak beliau. Saran Ummu Salamah terbukti berhasil mencairkan ketegangan dan menyelamatkan ketaatan kaum muslimin.
Selain kecerdasan diplomasi dan pandangan politiknya, Ummu Salamah juga tergolong sebagai salah satu perawi hadis perempuan terbanyak. Beliau meriwayatkan lebih dari 300 hadis Rasulullah SAW, yang banyak di antaranya berkaitan dengan hukum-hukum fikih kewanitaan, tata cara ibadah rumah tangga, serta petunjuk praktis kehidupan sehari-hari.
Kedalaman ilmu, keberanian dalam menghadapi cobaan hijrah, serta kebijaksanaannya menjadikan Ummu Salamah RA sosok teladan yang tidak hanya mendampingi perjuangan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi generasi sahabat dan tabi`in dalam memahami ajaran Islam.
Selasa, 27/10/2026 14:36 WIB
Selasa, 27/10/2026 14:26 WIB
Selasa, 20/10/2026 08:35 WIB