https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Nigeria Hadapi Beban TBC Tinggi, Stigma dan Pengungsian Persulit Pengobatan

Agus Mughni | Senin, 19/10/2026 16:05 WIB



Anak-anak berusia di bawah lima tahun, kelompok lanjut usia, serta orang yang hidup dengan HIV termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap TBC Ilustrasi terinfeksi tuberkulosis atau TBC (Foto: Yki4tbc)

Jakarta, Jurnas.com - Nigeria menghadapi beban tuberkulosis (TBC) yang tinggi. Di negara bagian Plateau, wilayah tengah-utara Nigeria, jumlah kasus TBC diperkirakan mencapai 11.000 kasus sepanjang 2026, sementara 2.047 pasien telah ditemukan dan menjalani pengobatan selama Juli hingga September.

Petugas pemantauan dan evaluasi Program Tuberkulosis Negara Bagian Plateau, Yohanna Bot, mengungkapkan data tersebut dalam pertemuan advokasi yang melibatkan media di ibu kota negara bagian, Jos, pada Minggu (18/10) malam. 

Bot menjelaskan, estimasi beban TBC tersebut didasarkan pada angka prevalensi 219 kasus per 100.000 penduduk. Pasien yang telah teridentifikasi saat ini mendapatkan pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan di Plateau.

Meski ribuan pasien telah terjangkau layanan pengobatan, upaya pengendalian TBC masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari risiko penularan di lingkungan padat penduduk hingga keterlambatan masyarakat dalam mencari pertolongan medis.

Bot menjelaskan bahwa TBC dapat menyebar melalui udara. Kepadatan tempat tinggal, malnutrisi, serta sistem kekebalan tubuh yang melemah turut meningkatkan risiko penularan dan kerentanan terhadap penyakit tersebut.

Anak-anak berusia di bawah lima tahun, kelompok lanjut usia, serta orang yang hidup dengan HIV termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap TBC.

Selain faktor kesehatan dan lingkungan, stigma sosial serta kesalahpahaman mengenai penyebab penyakit juga menjadi hambatan dalam penanganan TBC di Plateau.

Menurut Bot, sebagian masyarakat masih mengaitkan TBC dengan penyebab spiritual atau ritual. Anggapan tersebut dapat menghambat warga untuk mencari pemeriksaan dan pengobatan medis secara tepat waktu.

Padahal, keterlambatan diagnosis berpotensi membuat pasien lebih lama tidak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan sekaligus memperbesar tantangan dalam mengendalikan penyebaran penyakit.

Situasi keamanan turut mempersulit upaya menemukan dan mengobati pasien TBC di sejumlah wilayah Plateau. Gangguan keamanan dan perpindahan penduduk berdampak pada upaya pelayanan kesehatan, terutama di wilayah administrasi Mangu, Jos South, dan Barkin Ladi.

Kekerasan di wilayah tersebut telah memaksa sejumlah warga meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke kamp-kamp pengungsian internal atau internally displaced persons (IDP).

Kondisi ini menjadi tantangan bagi petugas kesehatan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan secara berkelanjutan.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, petugas kesehatan memprioritaskan kegiatan penjangkauan masyarakat dan skrining aktif di kamp pengungsian serta pusat pemasyarakatan. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan penemuan kasus dan membantu pasien memperoleh diagnosis lebih dini.

Skrining aktif juga menjadi bagian penting dari upaya menjangkau kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Selain hambatan sosial dan keamanan, Bot menyoroti kekurangan obat antituberkulosis. Menurut dia, kesenjangan pasokan tersebut berkaitan dengan gangguan rantai pasok dan ketergantungan yang besar terhadap pendanaan internasional, khususnya dukungan dari Global Fund.

Ketersediaan obat menjadi salah satu kebutuhan penting untuk memastikan pasien yang telah terdiagnosis dapat menjalani pengobatan sesuai kebutuhan medis.

Gangguan pasokan berpotensi mempersulit keberlanjutan layanan bagi pasien, terutama ketika fasilitas kesehatan bergantung pada dukungan pendanaan dan distribusi dari luar negeri.

Nigeria sendiri termasuk negara dengan beban TBC tinggi di dunia. Penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan, tetapi keterlambatan diagnosis, keterbatasan akses pengobatan, dan stigma sosial masih menjadi tantangan dalam mengendalikan penyebarannya. (*)

Sumber: Anadolu

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kasus TBC Plateau Nigeria Stigma TBC Pengobatan TBC

Terkini | Senin, 19/10/2026 17:10 WIB

News

Legislator Desak Pemerintah Percepat Penanganan Karhutla Kalimantan

News

KPK Diminta Tindak Lanjuti Laporan Dugaan Korupsi Eks Gubernur Sultra

News

Krisis Dana Pangkas Bantuan Pangan Gaza, 500.000 Warga Hilang Akses Makanan

News

Nigeria Hadapi Beban TBC Tinggi, Stigma dan Pengungsian Persulit Pengobatan

News

Legislator PKB: Potongan Ojol 8 Persen Belum Dongkrak Pendapatan Driver

News

Respons Menko Polkam soal Status Bencana Nasional Karhutla-Bantuan Asing

News

Pemadaman Karhutla Kalteng Diperkuat, Puluhan Kali Water Bombing Dikerahkan

News

Kemenag: Kesempatan Santri Kuliah ke Luar Negeri Terbuka Lebar

News

Asap Karhutla Meluas, Kemenkes Siapkan Masker, Oksigen, dan Obat-obatan

News

MAKI Desak KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Saat Tiba di Indonesia

News

BMKG Evaluasi Penyemaian Dry Ice Usai Video Es Rusak Atap Rumah Viral

News

Menlu Iran Tuduh Netanyahu Dorong AS Perang Lagi demi Hindari Penjara

Humanika

Disorot Soal Larangan Hijab, Ini 7 Fakta Menarik Negara Azerbaijan

MAKI Ungkap Data Perjalanan Nusron Wahid di Malaysia Saat Dipanggil KPK

Olahraga

Widiasih Sumbang Medali Pertama Indonesia di Asian Para Games 2026

Humanika

Sejarah Revolusi Prancis, Peristiwa yang Mengubah Peta Politik Dunia

News

ICW Desak KPK Periksa Eks Kepala BNPB Terkait Korupsi Dana Bencana

News

Ketua Komisi III Ingatkan Bahaya Politisasi RUU Perampasan Aset

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777