https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Asal-Usul Label Strawberry Generation untuk Gen Z

Mutiul Alim | Jum'at, 09/10/2026 23:01 WIB



Istilah `generasi stroberi` atau strawberry generation belakangan kian santer diperbincangkan di media sosial saat membahas karakter generasi Z di dunia kerja Ilustrasi - Gen Z sedang bekerja (Foto: Unsplash/KOBU Agency)

Jakarta, Jurnas.com - Istilah `generasi stroberi` atau strawberry generation belakangan kian santer diperbincangkan di media sosial saat membahas karakter generasi Z di ranah pendidikan maupun lingkungan kerja.

Sebutan tersebut kerap diasosiasikan dengan stereotip anak muda yang tampak berprestasi dan memesona di luar, namun dianggap mudah menyerah saat dihadapkan pada tekanan mental.

Istilah strawberry generation pertama kali dicetuskan di Taiwan pada era 1990-an untuk menggambarkan kelompok generasi muda kelahiran pasca-1981 yang mulai memasuki dunia dewasa.

Baca juga :
BPDP Dorong Gen Z Manfaatkan Produk Hilirisasi Kelapa Sawit

Masyarakat Taiwan saat itu menggunakan metafora buah stroberi karena karakteristik fisiknya yang tampak ranum, memikat, dan indah dipandang, namun memiliki tekstur lunak yang mudah memar atau hancur saat terinjak.

Analogi ini menggambarkan anak muda yang tumbuh dalam kondisi ekonomi yang lebih mapan dibanding orang tuanya, sehingga tidak terbiasa menghadapi kerasnya tempaan fisik dan sosial.

Baca juga :
Kementerian UMKM Dorong Gen-Z Kembangkan Produk Sawit Berdaya Saing

Generasi stroberi memiliki kelebihan sebagai generasi yang lahir dengan segudang gagasan kreatif dan kecerdasan visual yang luar biasa, meski sebagian rentan mengalami kerapuhan emosional.

Faktor pola asuh orang tua (overparenting) dan keterbukaan informasi di era digital turut membentuk fenomena psikologis tersebut.

Baca juga :
Pola Tidur Sehat yang Sering Diremehkan Gen Z

Kemudahan fasilitas yang serba instan tanpa melalui proses perjuangan panjang juga kerap membuat anak muda kurang memiliki daya lenting (resilience) ketika ekspektasinya berbenturan dengan realitas dunia kerja.

Selain itu, paparan media sosial yang masif memicu maraknya diagnosis diri mandiri (self-diagnosis) yang berlebihan terhadap isu kesehatan mental.

Meski demikian, masyarakat diingarkan tidak memandang label ini semata-mata sebagai celaan negatif, melainkan sebagai panggilan evaluasi bersama.

Dengan pendampingan mentor yang tepat dan dorongan untuk menggeser mental menumpang (passenger) menjadi mental pengemudi (driver), potensi kreatif generasi ini dinilai mampu membawa transformasi besar bagi masa depan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Strawberry Generation Generasi Stroberi Generasi Z

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777