Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (Foto: Kemenag)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut perubahan cara penyampaian nilai-nilai agama kepada generasi muda.
Menag Nasarddin pun menegaskan, pendekatan keagamaan perlu lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai moral yang menjadi fondasi kehidupan manusia.
“Oleh karena itu, strategi dakwah dan pembinaan keagamaan dituntut untuk bertransformasi agar tetap kontekstual dan adaptif," ujar Menag Nasaruddin dalam keterangan resmi.
Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok ke-5 di Jakarta, Kamis (8/10). Forum yang dihadiri tokoh agama lintas negara itu menyoroti pentingnya penguatan budi pekerti untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Menurut Menag Nasaruddin, penyampaian ajaran agama tidak cukup hanya mengandalkan tradisi masa lalu. Dakwah dan pembinaan keagamaan perlu memanfaatkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan media sosial serta pola kehidupan masyarakat modern.
Perubahan yang berlangsung cepat, kata dia, dapat memunculkan kebingungan bagi umat beragama yang harus menjaga tradisi sekaligus menghadapi tuntutan masa depan yang semakin canggih. Kondisi tersebut menuntut strategi dakwah yang mampu menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan realitas kehidupan saat ini.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Xs. Budi Santoso Tanuwibowo. Ia menilai, nilai-nilai agama perlu terus dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan baru, terutama ketika AI mulai mengambil alih berbagai pekerjaan mekanis yang sebelumnya dilakukan manusia.
“Ketika suatu saat AI mampu menggantikan semua fungsi manusia, apa yang akan dilakukan oleh manusia? Kalau mereka tidak punya budi pekerti, maka yang kalah akan dipinggirkan,” ujar Budi saat membedah relevansi nilai agama di era modern.
Menurut Budi, kemajuan teknologi harus selalu diiringi fondasi moralitas agar dapat dinikmati bersama secara berkeadilan tanpa meminggirkan kelompok rentan. Meskipun terdapat perbedaan kapasitas intelektual dan penguasaan teknologi di masyarakat, budi pekerti menjadi kunci agar manusia tetap saling memanusiakan.
“Kalau kita punya budi pekerti, kan kita sama-sama menikmati. Ada perbedaan, tapi tidak sampai membuat orang yang kalah itu terpinggirkan,” tegas Budi.
Melalui momentum KTT ini, Kementerian Agama berkomitmen menguatkan peran lembaga keagamaan dalam menanamkan nilai ketuhanan yang terwujud dalam etika keseharian. Langkah ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan moral kuat dalam merawat peradaban bangsa.
Jum'at, 09/10/2026 16:23 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB