Petugas pemadam berupaya memadamkan api dalam kebakaran hutan dan lahan (Foto: Kemenhut)
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan bahwa jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun drastis, dari 1.176 titik menjadi 387 titik dalam sehari.
Meski demikian, Kemenhut tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah yang masih mencatat titik panas terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, Kamis (8/10) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 387 hotspot high confidence secara nasional. Data tersebut dihimpun dari satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah itu berkurang 789 titik dibandingkan pemantauan Rabu (7/10) yang mencatat 1.176 hotspot. Penurunan juga terlihat di enam provinsi prioritas, dengan total 268 titik dibandingkan 543 titik sehari sebelumnya.
"Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot high confidence, turun dari 543 titik sehari sebelumnya. Penurunan tersebut merupakan perkembangan yang perlu terus dijaga," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10).
Meski perkembangan ini menjadi sinyal positif, Kemenhut mengingatkan bahwa penurunan hotspot belum berarti ancaman karhutla sepenuhnya terkendali. Kondisi di lapangan dapat berubah dengan cepat, sementara tingkat kerawanan setiap wilayah berbeda.
Sumatera Selatan mencatat 130 hotspot, turun dari 224 titik pada hari sebelumnya. Posisi berikutnya ditempati Kalimantan Tengah dengan 86 titik, berkurang dari 225 titik. Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang mengalami peningkatan, yakni dari 31 menjadi 37 titik.
Sementara itu, jumlah hotspot di Kalimantan Barat turun dari 47 menjadi 12 titik, sedangkan Jambi berkurang dari 16 menjadi tiga titik. Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, sama seperti sehari sebelumnya.
Sumatera Selatan saat ini mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, diikuti Kalimantan Tengah. Sementara Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya wilayah prioritas yang menunjukkan peningkatan dibandingkan sehari sebelumnya.
Kemenhut menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan angka pasti jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas.
"Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan yang diperlukan," tulis Kemenhut.
Di tengah penurunan hotspot, operasi pengendalian karhutla tetap berlangsung secara terpadu. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung patroli, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan pemadaman dari udara. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan OMC serta 44 unit untuk operasi water bombing atau pengeboman air.
Operasi udara dilengkapi penanganan di darat, mulai dari patroli dan pemeriksaan titik panas hingga pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, serta pendinginan lokasi kebakaran.
Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut. Api yang terlihat di permukaan bisa saja sudah padam, tetapi bara masih bertahan di bawah tanah dan berpotensi memicu kebakaran kembali. Karena itu, pembasahan dan pendinginan harus dilakukan hingga kondisi lokasi benar-benar aman.
Selain mengendalikan api, pemerintah terus memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikel halus PM2,5 untuk mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat.
Hasil pemantauan menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori kualitas udara baik hingga sedang. Namun, sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di bagian tertentu Kalimantan, kualitas udara bahkan terpantau berada pada kategori berbahaya.
Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikel di udara, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker juga disarankan ketika harus beraktivitas di luar.
Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Dampak karhutla dan gangguan habitat juga menjadi perhatian pemerintah karena dapat membahayakan satwa liar. Kementerian Kehutanan mencatat sedikitnya 272 individu satwa di Kalimantan telah mendapatkan penanganan melalui penyelamatan atau evakuasi, translokasi, rehabilitasi, hingga penggiringan ke habitat yang lebih aman.
Penanganan tersebut tersebar di empat provinsi. Kalimantan Selatan mencatat jumlah terbanyak dengan 105 individu, disusul Kalimantan Barat sebanyak 71 individu. Sementara itu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 48 individu satwa yang mendapat penanganan.
Di Kalimantan Barat, satwa yang ditangani mencakup 46 orangutan, 12 trenggiling, lima kukang, empat kucing kuwuk, dua bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu.
Penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing satwa, mulai dari evakuasi dan pemeriksaan, perawatan, hingga pemindahan ke fasilitas rehabilitasi atau habitat yang dinilai lebih aman.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak kebakaran, atau memasuki kawasan permukiman diminta tidak melakukan evakuasi sendiri. Warga sebaiknya menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, serta segera melaporkan lokasi dan kondisi satwa kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau petugas kehutanan terdekat.
Kemenhut mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot perlu dipertahankan melalui deteksi dini, patroli rutin, respons cepat, dan keterlibatan masyarakat.
Warga yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang membutuhkan pertolongan diminta segera melapor agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.
Laporan terkait karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui telepon 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Jum'at, 09/10/2026 16:23 WIB
Jum'at, 09/10/2026 15:32 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB