https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Penutupan Bab Al-Mandab Ancam Krisis Ekonomi dan Kelumpuhan Migas

Mutiul Alim | Kamis, 20/08/2026 13:15 WIB



Ketegangan geopolitik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran besar terhadap keamanan dua jalur maritim paling vital di dunia Ilustrasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz (Foto: Resuter)

Jakarta, Jurnas.com - Ketegangan geopolitik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran besar terhadap keamanan dua jalur maritim paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab Al-Mandab.

Dilansir dari berbagai sumber, penutupan atau gangguan serius pada kedua titik sempit (chokepoint) ini tidak hanya akan melumpuhkan distribusi energi, tetapi juga memicu krisis ekonomi global secara instan.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran merupakan urat nadi utama perdagangan energi dunia.

Baca juga :
Houthi Serang 8 Tanker Saudi, Blokade Puluhan Kapal Lain

Rute ini dilewati sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang mewakili 20 persen dari total konsumsi minyak cair global dan lebih dari seperempat perdagangan minyak maritim dunia.

Jalur ini menjadi rute mutlak bagi ekspor minyak mentah dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta memfasilitasi sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia yang didominasi oleh Qatar.

Baca juga :
Iran Peringatkan Negara-Negara Teluk Tak Bantu Militer AS

Risiko penutupan ini diperburuk oleh sangat minimnya infrastruktur pipa darat alternatif yang mampu mengambil alih kapasitas distribusi raksasa tersebut selama blokade terus terjadi.

Sementara itu, Selat Bab Al-Mandab yang kini menjadi target militer Houthi Yaman memiliki peran krusial sebagai pintu gerbang selatan menuju Terusan Suez. Jalur penghubung Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab ini memfasilitasi lebih dari 8 juta barel transit minyak per hari pada kondisi normal.

Baca juga :
Israel Hancurkan Jaringan Terowongan Hizbullah di Lebanon

Keberadaan selat ini memangkas secara drastis waktu dan jarak tempuh pengiriman pasokan minyak dan komoditas dagang dari Teluk Persia menuju pasar Eropa dan Amerika Utara.

Apabila kedua selat strategis ini ditutup bersamaan akibat eskalasi konflik, pasar energi dunia akan langsung terguncang hebat karena hilangnya pasokan puluhan juta barel minyak yang tidak mungkin ditutupi seketika.

Kapal-kapal kargo dan tanker minyak akan terpaksa mengambil rute memutar yang jauh lebih panjang melalui Tanjung Harapan di ujung selatan benua Afrika.

Pengalihan rute paksa ini akan menambah durasi pelayaran hingga berminggu-minggu serta melambungkan biaya asuransi dan pengiriman hingga berkali-kali lipat.

Pada akhirnya, rentetan krisis rantai pasok dan logistik maritim ini akan bermuara pada lonjakan ekstrem harga minyak mentah secara global.

Beban biaya logistik yang membengkak dipastikan akan memperburuk tekanan inflasi, menekan daya beli masyarakat secara drastis, serta mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri maupun negara berkembang.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Blokade Selat Hormuz Selat Al-Mandab Konflik Timur Tengah

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777