https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

3 Teknik Dasar Fotografer yang Wajib Dikuasai Pemula

Vaza Diva | Rabu, 19/08/2026 11:11 WIB



Memasuki dunia fotografi kerap terasa membingungkan bagi pemula akibat banyaknya tombol dan pengaturan teknis pada kamera. Ilustrasi - ini tiga teknik dasar untuk menjadi fotografer untuk pemula (Foto: Unplash)

Jakarta, Jurnas.com - Memasuki dunia fotografi kerap terasa membingungkan bagi pemula akibat banyaknya tombol dan pengaturan teknis pada kamera.

Namun, seluruh prinsip pencahayaan dan pembentukan gambar pada dasarnya bermuara pada satu konsep fondasi yang dikenal sebagai Segitiga Eksposur (Exposure Triangle).

Segitiga Eksposur menggabungkan tiga elemen utama yang bekerja secara independen sekaligus saling memengaruhi untuk menentukan seberapa terang atau gelap hasil foto, serta menciptakan efek visual yang diinginkan.

Baca juga :
Sejak Kapan Fotografer Disebut Sebagai Profesi?

1. Aperture (Bukaan Lensa)

Aperture atau bukaan lensa mengatur seberapa besar diafragma lensa terbuka untuk meloloskan cahaya menuju sensor kamera. Pengaturan ini diukur dalam satuan f-stop (seperti f/1.4, f/2.8, f/8, hingga f/22).

Pengaturan bukaan memiliki aturan terbalik: semakin kecil angka f-stop (misalnya f/1.8), semakin lebar bukaan lensa, sehingga semakin banyak cahaya yang masuk.

Baca juga :
Mengapa Hari Fotografi Sedunia Diperingati Setiap 19 Agustus?

Selain mengontrol intensitas cahaya, aperture menentukan ruang tajam atau kedalaman bidang (Depth of Field).

Bukaan lebar (angka f kecil) menghasilkan efek latar belakang kabur (bokeh) yang cocok untuk potret wajah, sedangkan bukaan sempit (angka f besar) menghasilkan ketajaman menyeluruh yang ideal untuk fotografi pemandangan.

Baca juga :
Begini Cara Membuat Email Profesional untuk Kerja dan Bisnis

2. Shutter Speed (Kecepatan Rana)

Shutter speed menentukan durasi waktu sensor kamera terbuka untuk merekam paparan cahaya. Satuan ukurannya dinyatakan dalam pecahan detik (seperti 1/1000 detik) hingga beberapa detik penuh.

Kecepatan rana yang tinggi (misalnya 1/1000 detik) berguna untuk membekukan gerakan objek yang berpindah cepat, seperti aksi olahraga atau aliran air.

Sebaliknya, kecepatan rana yang lambat (misalnya 1/2 detik atau lebih lama) memungkinkan pembuatan efek motion blur atau jejak cahaya (light trail) di malam hari.

Penggunaan shutter speed lambat membutuhkan bantuan tripod agar gambar tetap fokus dan tidak kabur akibat getaran tangan.

3. ISO (Tingkat Sensitivitas Sensor)

ISO mengukur tingkat sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya yang masuk. Pengaturan ISO berkisar dari angka rendah seperti 100 hingga angka tinggi mencapai 6400 atau lebih.

Penggunaan ISO rendah (100–200) menghasilkan foto yang jernih, tajam, dan bebas dari gangguan visual, sangat cocok digunakan saat kondisi pencahayaan terang seperti siang hari.

Ketika memotret dalam kondisi minim cahaya atau malam hari, nilai ISO dapat ditingkatkan agar hasil foto tetap terang.

Namun, semakin tinggi angka ISO yang digunakan, semakin besar pula risiko kemunculan bintik-bintik digital (noise atau grain) yang dapat menurunkan kualitas serta ketajaman detail gambar.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Hari Fotografi Sedunia Ilmu Fotografi Tips Pemula Ilmu Dasar Fotografer

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777