Foto : Peta Guncangan Gempa Bumi Mag:7.7 (30 km TimurLaut MBAY-NAGEKEO-NTT) (BMKG via BNPB)
Jakarta, Jurnas.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat untuk menjauhi pantai pascagempa bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) subuh.
Hal itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu (15/8).
"Melalui media ini, kami meminta masyarakat tetap tenang. Meski peringatan tsunami sudah dicabut, kami menghimbau agar masyarakat tetap menjauhi pantai saat ini sebelum nanti ada peringatan lain dari BMKG," kata Berton dialansir Antara.
Selain itu, masyarakat juga diminta agar tidak memasuki gedung terutama gedung-gedung yang mengalami keretakan. "Karena ini berpotensi bahaya ketika ada gempa susulan," kata Berton.
Pihaknya mengonfirmasi setidaknya sampai Sabtu pagi ini, dua orang meninggal dunia dampak dari gempa bumi bermagnitudo M7,7 yang mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, NTT itu.
Ia mengatakan dua korban jiwa tersebut tercatat di kawasan Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka.
"Berdasarkan laporan pendahuluan, peristiwa gempa bumi berdampak di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan, serta satu orang mengalami luka-luka," kata Berton.
BNPB masih melakukan pemutakhiran data terkait dampak gempa bumi di wilayah terdampak. Pendataan meliputi korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan bangunan, maupun dampak lainnya.
"Informasi mengenai perkembangan korban dan kerusakan akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi petugas di lapangan," tulis BNPB.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.30 WIB.
BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan dan dan menyampaikan pemutakhiran informasi kepada masyarakat.
"Kita sudah akhiri (peringatan dini tsunami) tapi tentunya kita akan terus memonitor aktivitas tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun kami," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto. (Ant)
Sabtu, 15/08/2026 10:52 WIB
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB