Ilustrasi Al-Quran (Foto: Pexels/uhumrea D)
Jakarta, Jurnas.com - Al-Qur`an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Di dalam Al-Qur`an, Allah SWT mengelompokkan ayat-ayat-Nya ke dalam dua kategori utama, yaitu ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat. Pembagian ini sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur`an Surat Ali `Imran ayat 7.
Jika ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tegas, dan menjadi inti dasar ajaran Islam (seperti hukum fiqih dan perintah ibadah), maka ayat mutasyabihat memiliki karakteristik yang berbanding terbalik.
Secara bahasa, kata mutasyabihat berasal dari kata tasyaabaha yang berarti "samar", "serupa", atau "mengandung kesamaran".
Dalam ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an), ayat mutasyabihat didefinisikan sebagai ayat-ayat Al-Qur`an yang maknanya belum tersingkap secara jelas, memiliki banyak kemungkinan penafsiran, atau hanya Allah SWT yang mengetahui hakikat makna yang sebenarnya.
Ayat-ayat ini sengaja diturunkan oleh Allah SWT sebagai bentuk ujian keimanan bagi manusia, sekaligus dorongan bagi para ulama dan ahli ilmu untuk terus bertafakur dan memperdalam pemahaman ilmu agama.
Contoh-Contoh Ayat Mutasyabihat dalam Al-Qur`an
Dalam kajian studi Al-Qur`an, terdapat beberapa ragam contoh ayat mutasyabihat yang kerap ditemui.
Salah satu bentuk ayat mutasyabihat yang paling nyata adalah susunan huruf-huruf tunggal yang menjadi pembuka di beberapa surat Al-Qur`an, seperti Alif Lam Mim (Surat Al-Baqarah), Ya Sin (Surat Yasin), Kaf Ha Ya `Ain Shad (Surat Maryam), atau Ha Mim (Surat Ghafir).
Senin, 27/07/2026 20:26 WIB
Minggu, 26/07/2026 10:05 WIB