Ilustrasi pasangan hidup ( Foto : Tirto.id )
Jakarta, Jurnas.com - Trauma masa kecil ternyata tidak hanya memengaruhi kesehatan mental seseorang, tetapi juga dapat terbawa hingga kehidupan asmara saat dewasa.
Kabar baiknya, penelitian terbaru menemukan bahwa dampak tersebut dapat dikurangi melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan pasangan setiap hari.
Dikutip dari Earth, temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships oleh tim peneliti dari University of Georgia, Amerika Serikat.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perhatian kecil, komunikasi yang baik, dan dukungan emosional secara konsisten dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat, bahkan bagi mereka yang memiliki pengalaman traumatis sejak kecil.
Penelitian melibatkan lebih dari 200 pasangan dewasa yang mengikuti program pendidikan hubungan ELEVATE di University of Georgia. Seluruh peserta diminta menceritakan pengalaman masa kecil mereka hingga usia 18 tahun, termasuk apakah pernah mengalami kekerasan, penelantaran, perceraian orang tua, kehilangan anggota keluarga, atau pengalaman traumatis lainnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang memiliki lebih banyak pengalaman buruk pada masa kecil atau adverse childhood experiences (ACE) lebih berisiko mengalami depresi, kecemasan, dan kesepian ketika dewasa. Kondisi psikologis tersebut kemudian memengaruhi kualitas hubungan romantis mereka.
Ketua peneliti, Analisa Arroyo, menjelaskan bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun hanya melalui percakapan besar atau momen-momen romantis. Justru kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari memiliki peran paling besar dalam memperkuat ikatan pasangan.
"Berinvestasi dalam hubungan melalui tindakan sehari-hari ibarat menabung di rekening bank. Hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari membangun kepercayaan, kedekatan, dan dukungan seiring waktu. Jika cadangan itu tidak ada, ketika masalah datang kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapinya," ujar Arroyo.
Menurut penelitian, trauma masa kecil sering kali tidak terlihat secara langsung. Namun, dampaknya perlahan muncul dalam bentuk kesulitan berkomunikasi, lebih mudah cemas, sulit menunjukkan kasih sayang, hingga kurang mampu menyelesaikan konflik dengan pasangan.
Arroyo menyebut pengalaman traumatis menciptakan tekanan kronis yang terus menumpuk tanpa disadari. Seiring waktu, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga kesehatan hubungan yang sedang dijalani.
Peneliti lainnya, Evin Richardson, mengatakan banyak pasangan hanya berfokus pada masalah yang muncul saat ini, misalnya sering bertengkar atau buruknya komunikasi. Padahal, akar persoalan bisa berasal dari pengalaman masa kecil yang belum pernah diselesaikan.
"Ketika pasangan mengalami masalah, orang sering hanya melihat bagaimana mereka berkomunikasi atau menghadapi konflik saat ini. Padahal, bagi banyak orang, tantangan tersebut memiliki akar yang jauh lebih dalam. Memahami hubungan ini membantu pasangan maupun tenaga profesional menangani penyebab utamanya, bukan hanya gejalanya," ujar Richardson.
Meski begitu, penelitian ini juga membawa kabar yang menggembirakan. Trauma masa kecil bukan berarti seseorang tidak bisa memiliki hubungan yang sehat.
Para peneliti menemukan bahwa kualitas hubungan dapat meningkat ketika pasangan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan sederhana, seperti menyapa pasangan ketika pulang ke rumah, mendengarkan saat pasangan berbicara, memberikan perhatian, menunjukkan apresiasi, hingga saling mendukung dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Arroyo, tindakan kecil tersebut menjadi fondasi yang mempersiapkan pasangan menghadapi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
"Bukan hanya percakapan penting atau konflik besar yang menentukan hubungan. Interaksi kecil setiap hari justru mempersiapkan pasangan menghadapi tantangan yang lebih berat ketika akhirnya datang," katanya.
Penelitian juga menemukan adanya perbedaan dampak trauma pada laki-laki dan perempuan. Pada perempuan, pengalaman buruk masa kecil lebih sering berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang kemudian menurunkan kepuasan hubungan, baik bagi dirinya maupun pasangannya.
Sementara pada laki-laki, depresi atau kecemasan akibat trauma masa kecil umumnya hanya memengaruhi cara mereka menilai hubungan yang sedang dijalani, tanpa memberikan dampak sebesar itu terhadap kepuasan pasangan.
Meski pengalaman masa kecil tidak dapat diubah, para peneliti menegaskan bahwa pola hubungan yang sehat tetap bisa dipelajari. Terapi individu, konseling pasangan, maupun program pendidikan hubungan dinilai mampu membantu pasangan memahami pengaruh masa lalu sekaligus membangun cara berkomunikasi dan menyelesaikan konflik yang lebih sehat.
Bagi peneliti, kesadaran bahwa luka masa kecil masih memengaruhi kehidupan dewasa merupakan langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih kuat. Dengan saling memahami dan membangun kebiasaan positif setiap hari, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi dampak trauma sekaligus menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan bertahan lama. (*)
Sumber; Earth
Kamis, 09/07/2026 20:45 WIB
Kamis, 09/07/2026 20:43 WIB
Kamis, 09/07/2026 20:23 WIB
Kamis, 09/07/2026 21:01 WIB