Pulau Kharg, Iran (Foto: AFP)
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Pulau Kharg, yang merupakan pusat infrastruktur minyak utama milik Iran, pada Kamis (11/6).
Meskipun sejumlah analis menilai militer AS mampu merebut pulau tersebut dalam waktu singkat, langkah agresif ini diprediksi dapat menempatkan tentara AS dalam bahaya besar serta memperpanjang durasi perang.
Pulau Kharg terletak sekitar 26 kilometer dari garis pantai Iran di ujung utara Teluk, atau sekitar 483 kilometer di sebelah barat laut Selat Hormuz. Lokasi geografisnya yang berada di perairan dalam memungkinkan kapal-kapal tanker raksasa untuk bersandar, hal yang tidak bisa dilakukan di kawasan pantai daratan utama Iran yang cenderung dangkal.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, pulau ini mengelola hingga 90 persen dari total ekspor minyak Iran. Oleh karena itu, penguasaan atas wilayah ini diyakini akan melumpuhkan perdagangan energi Iran serta memberikan tekanan ekonomi yang masif bagi Teheran selaku produsen minyak terbesar ketiga di OPEC. Pasukan AS juga tercatat sempat meluncurkan gelombang serangan udara ke Pulau Kharg pada Maret dan April lalu.
Trump mengklaim serangan tersebut telah menghancurkan seluruh target militer di sana, dan menambahkan bahwa infrastruktur minyak bisa menjadi sasaran berikutnya. Sejak saat itu, belum ada serangan baru yang diarahkan ke Kharg, meskipun militer AS terus menargetkan kapal-kapal tanker di sekitar pulau guna menjaga jalur blokade pelabuhan Iran.
Kendati demikian, Trump kembali menegaskan ketertarikannya untuk menguasai pusat minyak tersebut meskipun belum membeberkan rencana operasional yang pasti.
"Pilihan saya sejak awal adalah mengambil alih Pulau Kharg, pilihan saya adalah itu. Saya tidak tahu apakah Amerika memiliki keberanian untuk melakukannya," ujar Trump.
Sementara itu, dikutip dari Reuters pada Jumat (12/6), para ahli memperingatkan bahwa perebutan pulau ini tidak akan serta-merta menghentikan perang secara cepat.
“Penyitaan dan pendudukan Pulau Kharg lebih mungkin memperluas dan memperpanjang perang daripada menghasilkan kemenangan yang menentukan,” ujar Ryan Brobst dan Cameron McMillan dari Foundation for Defense of Democracies.
Mereka menjelaskan bahwa tentara AS yang ditempatkan di sana akan menjadi sasaran empuk bagi serangan rudal serta armada pesawat tanpa awak (drone), termasuk potensi penggunaan drone FPV (first-person view) berkamera seperti yang marak digunakan dalam konflik Ukraina.
Lembaga think-tank itu menambahkan bahwa jika serangan Iran berhasil mengenai sasaran, rezim Teheran diprediksi akan menyebarkan rekaman video kematian tentara Amerika di media sosial sebagai alat propaganda.
Tantangan logistik dan keamanan ini juga diakui oleh mantan Komandan Komando Sentral AS (CENTCOM), Joseph Votel. Dia menyebut bahwa meskipun hanya dibutuhkan sekitar 800 hingga 1.000 personel untuk menduduki Pulau Kharg, pasukan tersebut akan memerlukan dukungan logistik masif yang juga harus dilindungi secara ketat. Votel menilai posisi pasukan AS akan sangat rentan dan ia meragukan adanya keuntungan taktis yang signifikan dari operasi tersebut.
Jum'at, 12/06/2026 14:01 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB