Ilustrasi serangan jantung (Foto: Pexels: Freestocks)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap tren yang mengkhawatirkan bahwa serangan jantung kini semakin banyak terjadi pada usia lebih muda, dan salah satu pemicunya adalah penggunaan metamfetamin.
Temuan ini menantang asumsi lama bahwa penyakit jantung hanya identik dengan usia lanjut atau riwayat kesehatan tertentu.
Dikutip dari Earth, penelitian yang dilakukan oleh tim dari Santa Clara Valley Medical Center di California Utara menganalisis lebih dari 1.300 pasien serangan jantung selama 10 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan metamfetamin terkait dengan hampir 15 persen kasus, atau sekitar satu dari enam serangan jantung.
Pasien yang menggunakan metamfetamin cenderung lebih muda, dengan usia median 52 tahun, dibandingkan 57 tahun pada pasien non-pengguna. Menariknya, mereka juga lebih jarang memiliki faktor risiko klasik seperti kolesterol tinggi atau Diabetes Tipe 2.
Namun, risiko kematian mereka justru lebih tinggi. “Meskipun pengguna meth umumnya lebih muda dan tidak memiliki kondisi kardiovaskular khas, mereka dua kali lebih mungkin meninggal setelah serangan jantung dibandingkan non-pengguna,” ujar penulis utama studi ini, Dr. Susan Zhao.
Data menunjukkan, angka kematian mencapai 22,2 persen pada pengguna metamfetamin, dibandingkan 14,4 persen pada pasien lainnya. Selain itu, sekitar 42,3 persen pengguna kembali mengalami serangan jantung, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok non-pengguna.
Metamfetamin adalah stimulan kuat yang memberi tekanan besar pada sistem saraf pusat dan jantung. Obat ini dapat merusak pembuluh darah, memicu gangguan irama jantung, hingga mempercepat penuaan sistem kardiovaskular.
Menurut Dr. Robert Page II, metamfetamin kini menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dini pada orang dewasa muda.
Efeknya tidak selalu bertahap. Dalam beberapa kasus, penggunaan metamfetamin dapat langsung memicu serangan jantung, bahkan tanpa penyumbatan arteri yang signifikan.
Penanganan pasien pengguna metamfetamin juga lebih kompleks. Hanya sekitar 59,3 persen yang menerima prosedur standar seperti pembukaan arteri atau terapi obat, dibandingkan 75 persen pada pasien lain.
Hal ini terjadi karena serangan jantung pada pengguna metamfetamin sering kali tidak mengikuti pola umum, sehingga pendekatan medis menjadi lebih sulit dan tidak selalu efektif.
Peningkatan penggunaan metamfetamin, terutama di wilayah Amerika Serikat bagian barat, diperkirakan akan memperluas tren ini ke wilayah lain. Para ahli memperingatkan bahwa rumah sakit di berbagai daerah kemungkinan akan menghadapi lebih banyak pasien muda dengan kondisi jantung serius tanpa faktor risiko tradisional.
Selain itu, pengguna metamfetamin diketahui mengalami penyakit jantung rata-rata delapan tahun lebih awal dibandingkan non-pengguna. Artinya, beban penyakit akan lebih panjang, dengan dampak besar bagi individu maupun sistem kesehatan.
Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan baru dalam pencegahan dan penanganan penyakit jantung. “Kami membutuhkan strategi khusus untuk kelompok berisiko tinggi ini, termasuk upaya membantu mereka berhenti menggunakan meth,” kata Zhao.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association ini menyoroti perubahan lanskap penyakit jantung: tidak lagi hanya soal usia atau gaya hidup, tetapi juga terkait erat dengan penggunaan zat adiktif. (*)
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB