https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Jejak Dinosaurus Raksasa Berusia 120 Juta Tahun Kembali Ditemukan di Asia

Agus Mughni | Senin, 04/05/2026 16:05 WIB



Jejak dinosaurus raksasa berusia 120 juta tahun ditemukan di Mongolia, ungkap ekosistem purba yang hilang Situs jejak dinosaurus yang sempat hilang selama puluhan tahun di wilayah Saizhurakh, Mongolia utara, Asia Timur, akhirnya kembali ditemukan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Situs jejak dinosaurus yang sempat hilang selama puluhan tahun di wilayah Saizhurakh, Mongolia utara, Asia Timur, akhirnya kembali ditemukan dan membuka fakta baru tentang kehidupan purba.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa dinosaurus raksasa pemakan tumbuhan dan predator besar pernah hidup berdampingan di kawasan tersebut sekitar 120 juta tahun lalu.

Dikutip dari Earth, temuan ini menjadi bukti penting bahwa wilayah Mongolia utara, yang sebelumnya dianggap kurang aktif bagi dinosaurus besar pada periode tersebut, ternyata menyimpan ekosistem lengkap dengan rantai makanan yang kompleks.

Baca juga :
Korut Tembakkan Rudal Balistik, Ketegangan Regional Meningkat

Selama sekitar 70 tahun, lokasi ini hanya dikenal melalui laporan singkat tanpa peta atau penelitian lanjutan. Situs tersebut kemudian “menghilang” dari perhatian ilmiah hingga akhirnya ditemukan kembali melalui ekspedisi pada 2024.

Warga lokal berperan penting dalam membantu tim peneliti menemukan kembali jejak-jejak yang tertanam di lapisan batuan kuno. Penelitian lanjutan pada 2025 mengonfirmasi keberadaan 31 jejak dinosaurus.

Baca juga :
Korsel Protes Jepang soal Peringatan di Pulau Sengketa

Sebagian jejak berasal dari dinosaurus sauropoda, pemakan tumbuhan berleher panjang dengan ukuran tubuh lebih dari 15 meter. Sementara itu, jejak lainnya milik theropoda, dinosaurus karnivora yang panjangnya bisa melampaui 8 meter.

Hasil penelitian ini dipresentasikan oleh Shinobu Ishigaki dan Masato Fujita dari Okayama University of Science.

Baca juga :
Ratusan Penerbangan di China Selatan Dibatalkan akibat Topan Ragasa

Mongolia dikenal sebagai salah satu negara dengan penemuan fosil dinosaurus terbanyak di dunia. Namun sebagian besar berasal dari periode 70–90 juta tahun lalu. Temuan di Saizhurakh jauh lebih tua, yakni dari periode Kapur Awal (Early Cretaceous) sekitar 120 juta tahun lalu.

Periode ini relatif jarang memiliki bukti fosil di Mongolia, terutama untuk dinosaurus berukuran besar. Karena itu, penemuan ini menjadi penting untuk memahami bagaimana ekosistem berkembang dan terhubung antara Asia dan Amerika Utara pada masa tersebut.

Analisis menunjukkan bahwa area tersebut dulunya merupakan danau besar. Lapisan tanah liat hitam terbentuk di dasar danau, lalu sesekali air surut dan menyisakan permukaan berpasir.

Permukaan pasir inilah yang menjadi “jalur sementara” bagi dinosaurus untuk berjalan. Jejak kaki mereka kemudian tertutup kembali oleh sedimen saat air naik, dan akhirnya mengeras menjadi batu selama jutaan tahun.

Jejak ini tidak hanya merekam keberadaan dinosaurus, tetapi juga perilaku mereka.

Dua jalur jejak sauropoda menunjukkan pola menarik. Keduanya hampir identik dan saling tumpang tindih, mengindikasikan bahwa satu dinosaurus berjalan mengikuti jalur yang sama dengan yang lain, kemungkinan dengan kecepatan berbeda.

Fenomena ini mirip dengan perilaku hewan modern yang menggunakan jalur yang sama, mengisyaratkan kemungkinan adanya kesadaran ruang atau rute yang sering dilalui.

Jejak kaki belakang sauropoda berukuran sekitar 68 sentimeter, dengan pola langkah yang menunjukkan postur tubuh lebar khas kelompok titanosauriform.

Jejak theropoda memberikan gambaran berbeda. Jejak terbesar mencapai sekitar 56 sentimeter dengan arah yang beragam.

Tidak ada indikasi bahwa predator ini bergerak dalam kelompok. Setiap jalur berdiri sendiri, menunjukkan perilaku berburu atau pergerakan individu.

Sebelumnya, bukti dinosaurus predator besar dari periode ini banyak ditemukan di China, Korea Selatan, dan Jepang. Temuan di Mongolia ini memperluas wilayah persebaran mereka lebih jauh ke utara.

Sekitar 120 juta tahun lalu, Bumi berada dalam periode perubahan besar. Iklim hangat, tumbuhan berbunga mulai berkembang, dan dinosaurus bermigrasi antar benua yang saat itu masih terhubung.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Mongolia menjadi jalur penting dalam konektivitas ekosistem antara Asia Timur dan Amerika Utara.

Para peneliti berencana melanjutkan eksplorasi di area sekitar, terutama pada lapisan yang berpotensi menyimpan fosil tulang.

“Jejak ini memberikan catatan langka tentang pergerakan dinosaurus di masa lalu bukan hanya siapa yang hidup, tetapi bagaimana mereka bergerak dan berbagi ruang,” tulis penelitian tersebut.

Studi lengkap mengenai temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Ichnos. Penemuan ini menjadi pengingat bahwa jejak kecil di batuan bisa membuka cerita besar tentang kehidupan di Bumi jutaan tahun lalu. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Jejak Dinosaurus Mongolia utara Asia Timur Dinosaurus Raksasa Jejak Sauropoda

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777