https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Iran Desak AS Kurangi Tuntutan demi Akhiri Perang Timur Tengah

Muhammad Habib Saifullah | Senin, 04/05/2026 17:15 WIB



Iran mendesak Amerika Serikat untuk mengurangi tuntutan demi berakhirnya perang di Timur Tengah Selat Hormuz yang kini diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel (Foto: AFP)

Teheran, Jurnas.com - Juru bicara Kantor Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus mengurangi tuntutannya terhadap Republik Islam tersebut di tengah mandeknya negosiasi untuk mengakhiri perang dua bulan di Timur Tengah.

“Pada tahap ini, prioritas utama kami adalah mengakhiri perang,” ujar Baqaei dalam taklimat media yang disiarkan oleh televisi pemerintah, dikutip dari Arabnews.

“Pihak lawan harus berkomitmen pada pendekatan yang masuk akal dan meninggalkan tuntutan berlebihan mereka terhadap Iran," lanjut dia.

Baca juga :
Tanker Terkena Proyektil di Pantai UEA, Seluruh Awak Selamat

Negosiasi antara kedua negara tersebut mengalami kebuntuan sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April lalu, di mana hingga kini baru satu putaran pembicaraan damai langsung yang berhasil terlaksana.

Titik krusial yang menjadi penghambat utama adalah kendali ketat Iran atas Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Langkah Iran tersebut telah memutus aliran utama minyak, gas, dan pupuk dunia, sementara di sisi lain, AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga :
Trump Ragukan Proposal Terbaru Iran, Agresi Militer Tetap Terbuka

Menanggapi situasi ini, Presiden Donald Trump pada Minggu menyatakan bahwa Washington akan mulai mengawal kapal-kapal yang melewati jalur air tersebut. Langkah ini memicu ancaman dari militer Iran yang menegaskan akan menyerang pasukan AS jika mereka memasuki Selat Hormuz.

Trump menyebut operasi maritim baru yang ia sebut sebagai “Project Freedom” tersebut sebagai bentuk aksi "kemanusiaan" bagi para awak kapal yang terjebak blokade dan mulai kehabisan bahan makanan serta pasokan lainnya.

Baca juga :
Kapal Tanker Iran Berhasil Terobos Blokade AS, Berlayar ke Indonesia

“Kami akan mengerahkan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan aman dari Selat. Dalam semua kasus, mereka menyatakan tidak akan kembali sampai kawasan tersebut aman untuk navigasi," tulis Trump melalui unggahan di Truth Social, seraya menambahkan bahwa operasi akan dimulai pada Senin.

Komando Pusat Militer Iran merespons pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa setiap jalur aman yang melewati Hormuz harus dikoordinasikan dengan pasukannya "dalam kondisi apa pun."

“Sekarang saatnya bagi Amerika untuk menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi menggunakan bahasa ancaman dan kekuatan terhadap bangsa Iran,” tegas Baqaei.

Ia menambahkan bahwa Republik Islam Iran menganggap dirinya sebagai "penjaga dan pelindung" Selat Hormuz serta jalur air vital tersebut. Menurutnya, selat itu adalah rute yang aman bagi pelayaran internasional sebelum perang pecah.

“Komunitas internasional harus menuntut pertanggungjawaban Amerika Serikat dan rezim Zionis (Israel) atas terciptanya ketidakamanan di jalur air ini dan masalah-masalah yang dampaknya dirasakan oleh seluruh dunia,” katanya.

Sebelum pengumuman rencana pengawalan oleh Trump, Baqaei menyampaikan kepada televisi pemerintah bahwa Teheran telah mengajukan proposal berisi 14 poin yang berfokus pada pengakhiran perang. Washington dilaporkan telah menanggapi proposal tersebut melalui pesan yang disampaikan lewat mediator Pakistan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Perang Iran Selat Hormuz Tuntutan Iran Proposal Damai Iran

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777