Ilustrasi wisata Turki (Foto: AFP)
Istanbul, Jurnas.com - Pariwisata Turki mengalami pukulan berat tahun ini. Sejumlah pejabat memperkirakan bulan-bulan mendatang akan menjadi tantangan besar, setelah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gelombang pembatalan, serta pergeseran tren ke pemesanan menit terakhir (last-minute bookings) di tengah ketidakpastian.
Meskipun data yang dirilis pada Kamis (30/4) menunjukkan kenaikan tipis jumlah wisatawan asing sebesar 5 persen secara tahunan menjadi 2,46 juta orang pada Maret lalu, para pemilik hotel dan operator tur menyatakan bahwa angka pemesanan sebenarnya malah anjlok.
“Kuartal kedua yang sulit membentang di depan, di mana efek negatif dari perang akan sangat terasa,” ujar Menteri Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy dikutip dari Reuters.
Secara keseluruhan, jumlah kedatangan pada kuartal pertama naik 2,2 persen menjadi 6,84 juta, sementara pendapatan pariwisata naik 4,2 persen menjadi $9,9 miliar.
Namun, angka ini masih jauh dari target awal pemerintah sebesar $68 miliar untuk tahun ini, yang diproyeksikan sebelum perang pecah.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan pada awal Maret menyebutkan beberapa rudal Iran yang mengarah ke Turki berhasil ditembak jatuh, dengan beberapa puing mendarat di wilayah tetangga. Kejadian ini sempat membekukan minat wisatawan.
Operator tur asal Swiss, Bentour, mengungkapkan bahwa pemesanan sempat berkurang hampir separuh setelah insiden tersebut. Ketua Bentour, Kadir Ugur, menyatakan bahwa permintaan baru mulai merangkak naik pekan lalu, salah satunya karena adanya pemotongan harga hotel sebesar 20-25 persen.
Ketidakpastian perang telah menyebabkan visibilitas untuk puncak musim panas mendatang menjadi sangat rendah. Beberapa pemilik hotel mengaku terpaksa memangkas harga secara drastis, bahkan hingga di bawah biaya operasional.
Bulent Bulbuloglu, pemilik Cetta Hotels, menjelaskan dalam sebuah wawancara bahwa pola perilaku wisatawan kini telah berubah drastis.
"Pemesanan sekarang telah bergeser ke reservasi menit terakhir. Saat permintaan turun, persaingan menekan harga. Tidak ada keuntungan. Bahkan saat ini, kami sengaja menjual dengan harga rugi hanya untuk menghasilkan arus kas dan membayar gaji staf," ujar dia.
Pemerintah Turki memperingatkan bahwa pemulihan sektor ini sangat bergantung pada gencatan senjata yang berkelanjutan antara AS dan Iran. Penurunan pendapatan pariwisata ini dikhawatirkan akan memperburuk defisit transaksi berjalan Turki, yang sebelumnya sudah tertekan oleh lonjakan harga energi akibat dampak perang.
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB