https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Bulan Zulkaidah Disebut Bulan Apit di Jawa, Begini Asal Usul dan Maknanya

Agus Mughni | Kamis, 30/04/2026 09:15 WIB



Dalam penanggalan Jawa, bulan ini disebut Dulkangidah, tetapi masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai bulan Apit atau Hapit Ilustrasi - Mengapa Bulan Zulkaidah Disebut Bulan Apit di Jawa? Ini Penjelasannya (Foto: Harapan Rakyat)

Jakarta, Jurnas.com - Bulan Dzulqa’dah atau Zulkaidah, bulan ke-11 dalam kalender Hijriah, memiliki kedudukan istimewa dalam IslamBulan yang terletak setelah Idulfitri dan menjelang Iduladha ini termasuk dalam asyhurul hurum atau empat bulan suci yang dimuliakan, bersama Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Bulan Zulkaidah dimuliakan sebagai waktu untuk meningkatkan amal dan menahan diri dari konflik. Menurut beberapa ulama tafsir atau mufasir, ketentuan tersebut tertuang dalam Al-Qur`an Surat At-Taubah ayat 36 yang menyebut empat bulan suci telah ditetapkan sejak penciptaan alam.

Karena itu, Zulkaidah tidak hanya bermakna penamaan bulan dalam kalender Hijriah, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat dalam kehidupan umat Islam.

Baca juga :
Kapan Puasa Ayyamul Bidh Mei 2026? Simak Jadwal hingga Keutamaannya

Namun demikian, di tanah Jawa, Zulkaidah dikenal dengan sebutan berbeda yang lebih kental nuansa lokalnya. Dalam penanggalan Jawa, bulan ini disebut Dulkangidah, tetapi masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai bulan Apit atau Hapit.

Dikutip dari berbagai sumber, penamaan “Apit” berasal dari bahasa Jawa yang berarti terjepit atau berada di antara dua hal atau dalam konteks ini bulan dalam kalender. Hal ini merujuk pada posisi Zulkaidah yang berada di antara Idulfitri dan Iduladha, dua hari raya besar umat Islam.

Baca juga :
5 Peristiwa Bersejarah di Bulan Zulkaidah, Termasuk Persiapan Haji Wada

Karena berada di antara dua momentum penting tersebut, bulan ini kemudian dimaknai sebagai masa jeda. Selain itu, masyarakat Jawa juga menyebutnya sebagai bulan Selo, yang berarti waktu selingan atau istirahat.

Makna jeda ini lalu berkembang menjadi ruang kontemplasi dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Dengan demikian, bulan Apit tidak sekadar penanda waktu, melainkan juga momentum untuk menata diri sebelum memasuki fase ibadah berikutnya.

Baca juga :
Asal Usul dan Sejarah Penamaan Bulan Zulkaidah

Selanjutnya, makna tersebut tercermin dalam tradisi Apitan yang masih lestari di sejumlah wilayah seperti Semarang, Grobogan, dan Demak. Tradisi ini menjadi bentuk nyata perpaduan nilai religius dan budaya lokal yang berjalan seiring.

Dalam praktiknya, masyarakat memulai dengan membersihkan makam leluhur sebagai simbol penghormatan dan refleksi diri. Setelah itu, dilakukan ritual Pala Pendem dengan mengubur hasil bumi sebagai ungkapan syukur atas rezeki alam.

Sebagai puncaknya, warga menggelar tasyakuran dan doa bersama yang melibatkan seluruh komunitas. Momentum ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Dengan demikian, bulan Apit menunjukkan bagaimana ajaran Islam dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensinya. Zulkaidah pun menjadi bukti bahwa harmoni antara nilai agama dan tradisi dapat melahirkan makna yang lebih dalam dalam kehidupan masyarakat. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Bulan Zulkaidah Bulan Apit Kalender Jawa Tradisi Apitan

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777