https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

RI-Filipina Bahas Penguatan Kerja Sama Perdagangan hingga Pertahanan

Agus Mughni | Jum'at, 24/04/2026 07:52 WIB



Sebagai dua produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dan Filipina perlu bekerja sama membangun rantai pasok global yang lebih kuat dan resilient Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono bersama Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro memimpin Pertemuan ke-8 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia-Filipina di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Foto: Kemlu)

Jakarta Jurnas.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono bersama Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro memimpin Pertemuan ke-8 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia-Filipina di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Kamis (23/4).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Filipina sekaligus mempererat koordinasi kawasan, khususnya dalam kapasitas Filipina sebagai Ketua ASEAN tahun ini.

Pembahasan difokuskan pada kerja sama yang berdampak langsung bagi kedua negara, terutama di bidang pengelolaan perbatasan, keamanan maritim, perdagangan, investasi, energi, serta isu kekonsuleran.

Baca juga :
Menlu RI Bertemu Wakil Palestina di PBB, Bahas Perdamaian - ISF di Gaza

Kedua Menlu juga menegaskan pentingnya kerja sama energi dan mineral strategis, termasuk melalui Indonesia-Philippines Critical Minerals Partnership dan nickel alliance untuk memperkuat rantai pasok global dan industri hilir.

“Sebagai dua produsen nikel terbesar dunia, Indonesia dan Filipina perlu bekerja sama membangun rantai pasok global yang lebih kuat dan resilient,” ujar Menlu Sugiono.

Baca juga :
Menlu RI Dorong Perdamaian Gaza di PBB

Kedua Menlu juga bertukar pandangan mengenai pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat sentralitas ASEAN di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Terkait perkembangan di Timur Tengah, kedua Menlu menyoroti pentingnya mencegah eskalasi lebih lanjut, mengingat dampaknya yang langsung terhadap stabilitas regional, keamanan energi global, dan kelancaran rantai pasok internasional, termasuk melalui Selat Hormuz.

Baca juga :
Kemenlu Pulangkan 96 WNI/PMI dari Arab Saudi, Mayoritas Perempuan

Pada saat yang sama, Indonesia menegaskan bahwa perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah tidak akan tercapai tanpa penyelesaian yang adil bagi Palestina.

“Setiap eskalasi di Timur Tengah akan berdampak langsung pada keamanan energi dan rantai pasok global. Karena itu, de-eskalasi dan penyelesaian yang adil bagi Palestina harus terus menjadi prioritas,” kata Menlu Sugiono.

Filipina merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Asia Tenggara, dengan nilai perdagangan bilateral pada 2025 mencapai USD 12,02 miliar, sekaligus mitra penting dalam penguatan ketahanan energi, termasuk sebagai pasar ekspor batu bara terbesar Indonesia di kawasan.

Melalui JCBC sebagai mekanisme utama dialog bilateral tingkat Menteri Luar Negeri, kedua negara terus memastikan tindak lanjut konkret dan arah baru bagi penguatan kemitraan strategis Indonesia-Filipina.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Menlu RI Menlu Sugiono Kemitraan Strategis Indonesia dan Filifina

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777