Ilustrasi kacang almond (Foto: Hallosehat)
Jakarta, Jurnas.com - Almond dikenal sebagai salah satu kacang paling bergizi. Kandungan vitamin E, serat, protein, serta lemak sehat membuat kacang ini sering direkomendasikan sebagai camilan bergizi.
Namun, seperti makanan pada umumnya, konsumsi yang berlebihan tetap dapat memberi efek samping terhadap tubuh.
Di banyak pola diet, almond sering digunakan sebagai pengganti camilan tinggi kalori. Teksturnya yang renyah membuat orang mudah mengonsumsinya tanpa sadar dalam jumlah besar. Padahal, ada batas aman konsumsi kacang per hari yang jika dilewati dapat mengganggu pencernaan dan metabolisme.
Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan total asupan kalori harian tanpa disadari dan berpotensi memicu kenaikan berat badan. Hal ini sering terjadi pada orang yang sedang diet namun tidak memperhitungkan porsi camilan.
Terlalu banyak serat dapat menyebabkan kembung, perut bergas, dan sembelit, terutama pada orang dengan sistem pencernaan sensitif.
Zat ini dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal pada individu yang memiliki kecenderungan tertentu. Karena itu, penderita gangguan ginjal atau riwayat batu ginjal perlu berhati-hati.
Konsumsi almond dalam jumlah besar dapat memicu reaksi alergi, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap kacang-kacangan. Gejalanya bisa berupa gatal, bengkak, sesak napas, hingga reaksi anafilaksis.
Almond mengandung mangan dalam kadar cukup besar. Jika seseorang juga mengonsumsi suplemen atau makanan tinggi mangan lainnya, total asupan dapat melewati batas aman dan mengganggu fungsi saraf serta metabolisme tubuh.
Almond yang diasapi atau diberi rasa cenderung tinggi garam dan minyak tambahan. Jika dikonsumsi setiap hari, dapat meningkatkan risiko hipertensi maupun kolesterol tinggi.
Untuk mendapatkan manfaat optimal, konsumsi almond idealnya cukup 20–23 butir per hari. Angka ini memberikan nutrisi yang seimbang tanpa membebani tubuh.
Jum'at, 01/05/2026 01:10 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB