https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Lestari Moerdijat: Peningkatan Kesehatan Fisik dan Mental Masyarakat Harus Seimbang

Eko Budhiarto | Rabu, 17/09/2025 23:53 WIB



Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) nasional harus mampu diwujudkan melalui upaya peningkatan kesehatan fisik dan mental masyarakat secara seimbang.  Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat. (Foto: Humas MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) nasional harus mampu diwujudkan melalui upaya peningkatan kesehatan fisik dan mental masyarakat secara seimbang. 

"Kemajuan peradaban mesti diimbangi dengan pembangunan manusia yang sehat jasmani rohani. Karena itu negara harus mampu menjamin kesehatan fisik dan mental/jiwa setiap warga negaranya secara seimbang," kata Lestari Moerdijat.

Hal tersebut disampaikan Lestari Moerdijat dalam sambutan tertulisnya pada diskusi daring bertema Pendidikan Keluarga untuk Mewujudkan Kesehatan Jiwa Holistik yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (17/9). 

Baca juga :
Lestari Moerdijat: Bangun Ekosistem Literasi dengan Langkah Nyata

Menurut Lestari, upaya penanganan kesehatan mental masyarakat membutuhkan campur tangan pemerintah dan keluarga. Pendidikan keluarga, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memberikan pemahaman tentang kesehatan mental.

Apalagi, ujar Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menyebutkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. 

Baca juga :
MPR Dorong Nasionalisme Generasi Muda Lewat LKBB-PB NTB 2026 di Mataram

Padahal, tambah Rerie, secara formal, Indonesia telah memiliki UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa namun telah dicabut dan diintegrasikan ke dalam UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Namun, tegas Rerie, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. Sistem layanan kesehatan jiwa saat ini, tambah dia, masih mengalami kekurangan tenaga profesional dan panduan operasional untuk mengintegrasikan layanan kesehatan jiwa yang menyeluruh. 

Baca juga :
Eddy Soeparno Hormati SMAN 1 Pontianak, Tegaskan Tak Boleh Ada Intimidasi

Selain itu, jelas Rerie, hanya sebagian kecil dari anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk kesehatan mental, dan dua pertiga dari dana yang terbatas itu masih diarahkan ke rumah sakit jiwa, bukan layanan preventif yang berbasis masyarakat.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu sangat berharap, para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah mampu menanamkan pemahaman terkait pentingnya kesehatan jiwa sejak di lingkungan keluarga. 

Karena, tegas dia, pendidikan berperan strategis dalam membentuk pemahaman yang dapat mempengaruhi persepsi publik, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan jiwa, serta mendorong upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa sejak dini. 

Sementara itu, Staf Ahli Madya Analis Kebijakan Kesehatan Dit. Yankes Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan RI, Edduwar Idul Riyadi mengungkapkan, masalah kesehatan jiwa/mental ditangani pada Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan yang antara lain juga menangani penyandang disabilitas dan kesehatan para lansia. 

Menurut Edduwar sejatinya gangguan jiwa menjadi penyebab ke-2 hilangnya tahun-tahun produktif seseorang, sehingga yang bersangkutan mengalami disabilitas.

Data Survei Kesehatan Jiwa Nasional pada 2022, ungkap dia, pada rentang usia di atas 15 tahun tercatat 2% warga negara Indonesia pernah mengalami gangguan jiwa dan pada rumah tangga tercatat 0,4% anggota rumah tangga mengalami masalah kejiwaan.

Dari catatan tersebut, menurut Edduwar, sebanyak 87% penderita gangguan jiwa tidak memeriksakan ke sarana layanan kesehatan yang ada. 

Edduwar berpendapat, pendidikan terkait kesehatan jiwa di keluarga harus ditekankan sejak dini. Peran pengasuhan di lingkungan keluarga, tegas dia, sangat penting dalam membangun kualitas kesehatan mental anggota keluarganya.

Menurut Edduwar, perlu upaya terintegrasi lintas program dan lintas sektor untuk mencegah hingga menangani masalah kesehatan jiwa di tanah air. 

Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Tjut Rifameutia berpendapat, kita perlu menyikapi secara serius peningkatan kasus gangguan jiwa di tanah air.

Menurut Tjut, kesehatan jiwa merupakan kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, dan spiritual. Kesehatan jiwa holistik, jelas dia, tergantung terciptanya keseimbangan manusia pada aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual. 

Pendidikan kesehatan jiwa secara holistik, tambah Tjut, harus berfokus pada keseimbangan seluruh aspek pencegahan dan penguatan ketahanan jiwa masyarakat. Pendidikan di keluarga, tegas dia, merupakan fondasi utama dalam membentuk kesehatan jiwa secara holistik. 

Menurut Tjut, orang tua harus peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak, sehingga orang tua dapat berperan sebagai agen deteksi dini kesehatan mental bagi anggota keluarganya. 

Pendidikan keluarga, tegas Tjut, harus menjadi bagian strategi dari upaya mengatasi masalah kesehatan jiwa di tanah air. 

Psikolog & Konsultan Kesehatan Holistik, Ika Shinta Sari mengungkapkan, saat ini kasus depresi dan kecemasan di masyarakat meningkat signifikan. 

Faktor pemicunya, menurut Ika, berakar di lingkungan keluarga, baik terkait tekanan ekonomi, pola asuh, dan kurang komunikasi antar anggota keluarga. Menurutnya, saat ini berkembang pertanyaan, "Apakah keluarga sudah menjadi rumah aman bagi anggota keluarganya?`

Ika berpendapat, 95%-99% pikiran bawah sadar manusia sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. 

"Bila pikiran bawah sadar seseorang mengalami luka pada masa lalu, akan mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang dalam kehidupannya," ujar Ika. 

Ika berpendapat, pendidikan emosi sejak dini dan dialog terbuka dan mendalam sangat penting dalam proses pendidikan di keluarga. 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kinerja MPR Lestari Moerdijat Kesehatan Fisik dan Mental Pendidikan Keluarga

Terkini | Minggu, 25/10/2026 18:20 WIB

News

Militer Yaman Lumpuhkan 307 Petempur Houthi dalam 24 Jam

News

Cak Imin Dorong Penerima Bansos Mandiri, Target Kemiskinan 5 Persen di 2029

News

Target Khamis Mushait, Koalisi Arab Saudi Cegat Rudal Jelajah Houthi

News

Ajak Rakyat Rasional, Fahri: Kebijakan Prabowo untuk Menutup Kebocoran

News

Bentrokan Pecah di Roma, Massa Lempar Benda Peledak ke Polisi

Gaya Hidup

Bulan Purnama Hunter`s Moon Muncul 25–26 Oktober, Ini Cara Mengamatinya

News

Widya Pratiwi Kawal Penerbitan 27 Sertipikat Tanah Transmigran di Maluku

News

Cak Imin Dorong Pesantren Jadi Penjaga Hutan dan Pencegah Karhutla

News

Kabut Asap 2026: Krisis Tidak Dapat Dibebankan kepada Indonesia Semata

News

Waspada Modus BSU 2026, Kemnaker Minta Pekerja Lindungi Data Pribadi

News

Bandara Riyadh Ubah Terminal Mulai 25 Oktober, Penumpang Diminta Cek Jadwal

News

Demo Anak Muda di Barcelona Berujung Ricuh, Toko Dijarah-Kontainer Dibakar

Humanika

Waktu Terbaik Membaca Ayat Kursi dalam Hadis Nabi Muhammad

News

Demo Yellow Vests, Prancis Dilaporkan Minta Operator Siaga Batasi Medsos

Humanika

Nabi Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak, Ini Maknanya

Humanika

Pentingnya Mendengarkan Nasihat dari Orang Bijak

Kesehatan

Kampanye Kesadaran Kesehatan Paru-Paru Setiap 25 Oktober, Ini Tujuannya

Gaya Hidup

Mengenal Sejarah Hari Opera Sedunia yang Diperingati Setiap 25 Oktober

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777