Ilustrasi - Orang sedang berduka (Foto: Unsplash/Sasha Freemind)
Jakarta, Jurnas.com - Kehilangan orang terkasih adalah salah satu pengalaman paling mengguncang dalam hidup seseorang. Dan di momen rapuh seperti itu, kata-kata yang salah bisa menjadi luka tambahan yang tak disadari.
Kita sering kali ingin memberikan penghiburan, tapi justru terjebak dalam kalimat-kalimat yang terasa kosong atau menyakitkan. Menurut para ahli, niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai empati yang tepat.
Psikolog dan spesialis dukungan duka Rebecca Feinglos menyebut bahwa sebagian besar kesalahan ucapan muncul karena kita ingin cepat mengatasi suasana tidak nyaman. Padahal, kesedihan memang bukan sesuatu yang harus segera dibereskan.
Berikut adalah kalimat-kalimat yang menurut para psikolog dan praktisi dukacita sebaiknya dihindari:
Kalimat ini terkesan mencoba merasionalisasi kehilangan, padahal tidak semua kesedihan punya logika. Ucapan ini bisa terdengar seperti meremehkan rasa kehilangan yang dialami.
Meskipun Anda bermaksud baik, ini bisa terasa menyakitkan jika orang tersebut sedang mempertanyakan imannya atau merasa marah terhadap keadaan.
Setiap orang berduka dengan cara yang berbeda. Membandingkan pengalaman hanya akan membuat mereka merasa tidak dipahami.
Mengetahui kematian akan datang tidak membuatnya lebih mudah. Kalimat ini meremehkan intensitas rasa kehilangan.
Walaupun mungkin selaras dengan keyakinan Anda, bagi orang yang berduka, kenyataannya mereka hanya ingin orang tersebut masih di sini.
Panjang umur tidak otomatis mengurangi rasa sakit. Kehilangan tetaplah kehilangan.
Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan yang hilang. Kalimat ini bisa terasa sangat tidak sensitif.
Mendorong orang untuk “tegar” justru bisa menambah beban emosional. Biarkan mereka hancur, itu bagian dari proses.
Grief tidak punya tenggat waktu. Ucapan ini terdengar seperti menyuruh mereka melupakan orang yang mereka cintai.
Kadang, justru kenangan indah itulah yang memperparah rasa rindu di awal kehilangan.
Itulah sebabnya para ahli menekankan pentingnya berpikir ulang sebelum berbicara kepada seseorang yang sedang berduka. Ucapan yang salah bisa membuat mereka merasa seperti sedang menjalani kesedihan dengan cara yang keliru.
Rebecca Feinglos, seorang spesialis dukungan duka, mengatakan bahwa orang yang sedang kehilangan sedang memikul beban yang luar biasa berat. Tugas kita bukan untuk memperingan beban itu dengan kalimat motivasi, melainkan dengan kehadiran yang tulus.
Kehadiran diam kadang jauh lebih bermakna dibandingkan rangkaian kata yang dianggap sopan tapi tidak tulus. Menemani tanpa menghakimi bisa menjadi bentuk dukungan paling kuat. (*)
Sumber: Verrywellmind
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB