Oleh: Kholid Al Walid
Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dan Ketua Asosiasi Aqidah Dan Filsafat Islam (Asafi)
28 Oktober hari sakral bagi bangsa ini, hari Sumpah Pemuda. Pertanyaan terlintas dalam pikiran saya, masih adakah api itu pada generasi hari ini? Pemuda 1928 mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa tanpa ponsel dan media sosial. Mereka hanya memiliki gagasan yang jernih tentang siapa diri mereka dan ke mana hendak melangkah.
Kini anak muda memiliki segala perangkat, tetapi tidak sedikit yang kehilangan pegangan gagasan.
Pancasila, yang semestinya menjadi pegangan itu, kerap tinggal sebagai hafalan upacara bendera, soal ujian, atau hiasan dinding kantor. Padahal merekalah yang kelak memegang kemudi negeri ini. Jika ideologi bangsa tidak mengakar dalam benak mereka, kita sedang mewariskan kapal besar tanpa kompas. Tesis tulisan ini sederhana: Pancasila baru akan kuat bila kembali dipikirkan secara filosofis, dan karena itu penguatan filsafat tidak boleh lagi ditunda.
Pancasila yang Dihafal, Bukan Dihayati
Gejalanya mudah ditemui. Banyak pelajar mampu menyebut lima sila secara berurutan, tetapi gagap ketika ditanya mengapa ketuhanan diletakkan pertama, atau bagaimana kemanusiaan dapat berjalan seiring dengan persatuan. Pancasila diperlakukan sebagai daftar, bukan sebagai argumen. Ia dihafal untuk lulus, lalu dilupakan setelah lulus.
Di ruang publik, wajahnya lebih mencemaskan. Perundungan di sekolah dan kampus, intoleransi yang disebar lewat linimasa, ujaran kebencian antarkelompok, serta apatisme terhadap ketimpangan menunjukkan bahwa nilai Pancasila belum menjadi cara berpikir sehari-hari. Sebagian anak muda menganggapnya urusan negara, bukan urusan hidup mereka. Itu bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena jarang ada yang mengajak mereka berpikir tentang Pancasila secara sungguh-sungguh. Padahal bangsa yang gagal menanamkan dasar berpikirnya pada generasi penerus sedang menyiapkan kerapuhan di masa depan.
Pancasila adalah Filsafat, Bukan Sekadar Slogan
Dalam pidato 1 Juni 1945, Soekarno menyebut Pancasila sebagai philosophische grondslag, dasar filsafat bagi negara yang hendak didirikan. Ia juga menegaskan bahwa dirinya hanya menggali nilai-nilai yang telah lama hidup dalam tradisi bangsa ini. Artinya, Pancasila lahir dari perenungan tentang manusia, masyarakat, dan tujuan hidup berbangsa, bukan dari kompromi sesaat.
Dibaca secara filosofis, kelima sila membentuk bangunan pemikiran yang utuh. Ketuhanan menjawab pertanyaan tentang asal dan tujuan keberadaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab menjawab hakikat dan martabat manusia. Persatuan menjawab bagaimana yang beragam dapat hidup sebagai satu. Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan menjawab bagaimana kebenaran dan kekuasaan dicari lewat dialog. Keadilan sosial menjawab bagaimana kebaikan bersama diwujudkan. Pertanyaan tentang keberadaan, manusia, pengetahuan, dan kebaikan adalah pertanyaan pokok filsafat itu sendiri. Memahami Pancasila tanpa bekal filsafat ibarat membaca puisi tanpa mengenal bahasanya.
Mengapa Anak Muda Menjauh
Ada tiga sebab yang patut diakui. Pertama, cara mengajar yang searah. Pada masa lalu Pancasila ditanamkan lewat penataran dan hafalan yang menuntut kepatuhan, bukan pemahaman. Ketika cara itu ditinggalkan setelah Reformasi, yang hilang bukan hanya metodenya, tetapi juga ruang untuk membicarakan Pancasila secara serius.
Kedua, banjir informasi. Anak muda hidup di tengah arus konten yang cepat, pendek, dan emosional, sehingga gagasan yang menuntut perenungan sulit bersaing dengan hiburan dan amarah instan. Ideologi-ideologi lain hadir dengan kemasan menarik dan jawaban ringkas, sementara Pancasila tampil dengan bahasa upacara yang kaku.
Ketiga, krisis keteladanan. Mereka mudah melihat jarak antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang dipertontonkan: korupsi oleh mereka yang fasih menyebut Pancasila, ketimpangan di tengah slogan keadilan sosial. Ketika jarak itu terlalu lebar, sinisme tumbuh, dan sinisme adalah musuh terbesar ideologi apa pun.
Filsafat sebagai Jalan Pulang
Di sinilah filsafat berperan. Ia tidak menjejalkan jawaban, melainkan melatih orang bertanya dengan benar, menimbang argumen, dan mempertanggungjawabkan keyakinan. Ideologi yang diterima tanpa dipikirkan mudah dibelokkan oleh siapa pun yang pandai berretorika. Ideologi yang telah diuji nalar dan diterima secara sadar akan berakar kuat.
Sumbangan filsafat setidaknya tiga. Pertama, nalar kritis: anak muda yang terlatih membedakan argumen sahih dari yang menyesatkan lebih tahan terhadap propaganda dan hoaks, termasuk yang mengatasnamakan agama maupun nasionalisme. Kedua, kedalaman makna: gotong royong bukan sekadar kerja bakti, melainkan etika saling bergantung antarmanusia, dan adil bukan sekadar sama rata, melainkan memberi hak sesuai martabat. Ketiga, kebiasaan berdialog: sila keempat menuntut hikmat dalam permusyawaratan, dan hikmat hanya tumbuh pada orang yang mau mendengar dan bersedia dikoreksi.
Dalam masyarakat majemuk, filsafat juga menyediakan bahasa bersama. Ketika perbedaan keyakinan mudah berubah menjadi perpecahan, kemampuan bernalar bersama menjadi jembatan yang tidak bergantung pada kesamaan identitas.
Menguatkan Pancasila lewat filsafat tidak berarti mensakralkannya hingga kebal pertanyaan. Justru Pancasila yang berani diuji akan tampil sebagai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dogma yang harus ditelan.
Langkah Nyata
Gagasan ini perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret.
• Kurikulum. Kenalkan dasar logika, etika, dan sejarah gagasan sejak jenjang menengah, dan jadikan Pancasila bahan telaah argumentatif, bukan hafalan. Perguruan tinggi dapat menghidupkan kajian Pancasila dengan pendekatan filsafat.
• Guru dan dosen. Latih pendidik sebagai fasilitator diskusi, bukan penyampai doktrin, agar kelas menjadi tempat bertanya dan bukan sekadar tempat mencatat.
• Ruang dialog. Sediakan forum diskusi di sekolah, kampus, dan komunitas dengan aturan main yang sehat. Biarkan mahasiswa mengkritik Pancasila agar mereka menemukan alasan untuk membelanya.
• Keteladanan. Pejabat dan tokoh publik harus lebih dulu menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Tanpa itu, seluruh pendidikan ideologi akan menguap.
• Bahasa yang akrab. Kemas gagasan dalam podcast, video pendek, dan tulisan ringan tanpa mengorbankan kedalaman.
• Khazanah keagamaan. Tradisi intelektual setiap agama, termasuk filsafat Islam, dapat menjembatani iman dan nalar sehingga sila pertama dipahami sebagai ruang bersama, bukan alat pemisah.
Pada akhirnya, pemuda 1928 tidak menunggu keadaan sempurna untuk bersatu; mereka berpikir, berdebat, lalu bersumpah. Tugas kita kini memberi generasi muda bekal yang sama: kesempatan berpikir. Pancasila yang hanya dihafal mudah ditinggalkan, tetapi Pancasila yang dipikirkan akan dihidupi. Menguatkan filsafat berarti menguatkan akar nalar bagi ideologi bangsa, agar para pemimpin yang lahir dari generasi ini tidak hanya fasih mengucapkan Pancasila, tetapi sanggup mempertanggungjawabkannya dalam setiap keputusan yang menentukan nasib bangsa.






