Ekonomi

Kawasan Tekstil Terpadu Danantara: Solusi Lapangan Kerja Nasional

Danantara bersama BP BUMN rencanakan kawasan industri tekstil terintegrasi yang menyatukan rantai pasok hulu‑hilir, meningkatkan efisiensi, dan membuka jutaan lapangan kerja bagi Indonesia.
Ilustrasi industri tekstil. (FotoL Al Jazeera

Jakarta, Jurnas.com - Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) bersama Danantara menetapkan target besar untuk menghidupkan kembali sektor tekstil nasional melalui pembangunan kawasan industri tekstil terintegrasi. Langkah strategis ini dirancang untuk menyatukan seluruh rantai pasok dari hulu hingga hilir dalam satu kawasan yang efisien.

Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem yang terpusat ini merupakan kunci utama dalam memperkuat struktur industri tekstil di Indonesia. Menurutnya, penyatuan lini produksi dari hulu sampai hilir akan menciptakan efisiensi operasional sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal di kancah global.

"Kita maunya kan dari hulu ke hilir. Nanti kita bangun ekosistem itu dalam satu kawasan yang terintegrasi," ujar Dony, Jumat (6/11/2026).

Selain berfokus pada penguatan rantai pasok, pengembangan industri tekstil ini juga diarahkan secara khusus untuk membuka lapangan kerja dalam skala masif. Dony menegaskan bahwa intervensi pemerintah dan badan pengelola investasi harus menyentuh sektor ekonomi riil agar memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas.

Tanpa keterlibatan langsung pada sektor riil, penyerapan tenaga kerja tidak akan berjalan optimal. Oleh karena itu, kebangkitan kembali industri tekstil dipandang sebagai solusi strategis untuk menyerap jutaan tenaga kerja. "Kalau kita tidak masuk ke ekonomi riil, employment-nya nggak ada. Bayangkan kalau industri tekstil ini kita bisa hidupkan lagi, berapa banyak employment yang bisa kita hasilkan," kata Dony.

Dalam cetak biru pengembangannya, Danantara diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri tekstil tidak hanya melalui suntikan investasi finansial, tetapi juga dengan memposisikan diri sebagai induk yang mengayomi para pelaku usaha di sektor tersebut. Peran sebagai pelindung ini dinilai penting untuk melindungi industri domestik dari berbagai tekanan eksternal.

Guna memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran, Dony turut mengajak para pelaku industri tekstil nasional untuk duduk bersama dan berdiskusi aktif dengan pemerintah. Kolaborasi ini terbuka lebar guna mengevaluasi serta memperbaiki regulasi yang selama ini menjadi hambatan bagi pertumbuhan sektor tekstil.

"Teman-teman di industri tekstil harus kompak. Silakan, kapan kita berdiskusi, apa regulasi yang mesti kita perbaiki oleh pemerintah. Nanti kami Danantara ikut berinvestasi sebagai induknya untuk mengayomi teman-teman di tekstil," pungkas Dony.

Melalui sinergi yang solid antara pemerintah, badan pengelola investasi, dan para pelaku usaha, kebangkitan industri tekstil nasional diharapkan tidak hanya memulihkan kejayaan masa lalu, tetapi juga membangun fondasi manufaktur yang tangguh dan berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.