Arkeolog menemukan kuil yang didedikasikan untuk Mars, dewa perang dalam mitologi Romawi, di dekat bekas benteng militer Kekaisaran Romawi di Jerman (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Arkeolog menemukan kuil yang didedikasikan untuk Mars, dewa perang dalam mitologi Romawi, di dekat bekas benteng militer Kekaisaran Romawi di Jerman. Penemuan ini mengungkap jejak kehidupan keagamaan sekaligus aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan kekaisaran hampir 1.800 tahun lalu.
Kuil tersebut ditemukan di kawasan kaki Pegunungan Taunus, Hesse, sekitar 26 kilometer di utara Frankfurt. Bangunan itu merupakan bagian dari permukiman yang berada di sekitar Benteng Romawi Kapersburg, yang dibangun untuk membantu mempertahankan perbatasan Kekaisaran Romawi dari kelompok-kelompok suku Jermanik.
Penggalian di Benteng Kapersburg dan permukiman di sekitarnya telah dilakukan sejak 2024 oleh tim arkeolog. Salah satu temuan paling mengejutkan dari penelitian tersebut adalah kuil Romawi yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya.
Di dalam kuil, arkeolog menemukan sejumlah pecahan prasasti persembahan. Sebagian tulisan telah berhasil diterjemahkan dan menyebut bahwa bangunan tersebut dipersembahkan kepada Mars, dewa perang yang memiliki posisi penting dalam kepercayaan Romawi.
“Di dalam kuil, kami menemukan beberapa fragmen prasasti persembahan,” kata Kai Mückenberger, arkeolog dari Hessen Archaeology, bagian dari Hessen State Office for Monument Preservation.
Selain prasasti, tim juga menemukan pecahan patung Mars. Temuan lainnya adalah patung kecil yang menggambarkan sosok bersayap dengan cabang palem dan karangan daun salam.
Sosok tersebut kemungkinan merupakan Victoria, personifikasi kemenangan dalam pertempuran dalam kepercayaan Romawi. Kehadiran representasi Mars dan Victoria di lokasi yang berada dekat benteng militer memberikan gambaran mengenai bagaimana keyakinan dan simbol kemenangan perang hadir di kawasan perbatasan Kekaisaran Romawi.
Benteng Kapersburg sendiri diketahui dibangun pada awal abad kedua Masehi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, pembangunan benteng kemungkinan berlangsung pada masa Kaisar Trajan yang memerintah pada 98–117 M atau Kaisar Hadrian yang berkuasa pada 117–138 M.
Benteng tersebut digunakan oleh unit tentara dan kavaleri Romawi selama sekitar satu setengah abad. Fungsinya berakhir sekitar tahun 275 M, ketika benteng tidak lagi digunakan sebagai bagian dari sistem pertahanan Romawi di kawasan tersebut.
Benteng-benteng seperti Kapersburg merupakan bagian dari jaringan pertahanan luas yang dibangun Kekaisaran Romawi di berbagai wilayah Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat. Di sekitar banyak benteng biasanya berkembang permukiman yang dikenal sebagai vicus, tempat tinggal pedagang, keluarga tentara, dan masyarakat sipil lainnya.
Menariknya, keberadaan vicus Kapersburg sebelumnya hampir tidak diketahui. Ketika penggalian modern dimulai pada 2024, para arkeolog justru menemukan lapisan arkeologis yang terpelihara sangat baik tepat di bawah permukaan hutan.
“Hal yang menakjubkan adalah terpeliharanya lapisan arkeologis yang sangat baik yang dimulai tepat di bawah lantai hutan,” ujar Mückenberger.
Lapisan tersebut menyimpan material yang terbakar dan berbagai bukti aktivitas manusia. Kondisi seperti itu disebut sangat jarang bertahan di kawasan pertanian karena lapisan tanahnya telah banyak terganggu, tetapi justru terlindungi di kawasan vicus Kapersburg.
Penggalian juga menghasilkan temuan yang berbeda dari perkiraan awal. Arkeolog menemukan jauh lebih sedikit rumah dibandingkan yang mereka perkirakan, tetapi menemukan banyak bukti aktivitas kerajinan dan produksi.
Di antaranya terdapat lubang yang digunakan untuk aktivitas pandai besi, tungku untuk mengeringkan gandum, serta oven untuk memanggang roti. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan sekitar benteng kemungkinan memiliki fungsi khusus sebagai area produksi dan pelayanan bagi kebutuhan komunitas militer.
“Semua ini merupakan elemen teknis yang berkaitan dengan layanan lokal, menunjukkan bahwa kami berada di semacam area perantara yang tidak langsung berdekatan dengan benteng, tetapi mungkin lebih seperti kawasan kerajinan benteng,” kata Mückenberger.
Temuan kuil dan patung persembahan kini memberikan petunjuk baru mengenai kehidupan keagamaan masyarakat di perbatasan Kekaisaran Romawi. Pada saat yang sama, bukti aktivitas kerajinan menunjukkan bahwa kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga mendukung kebutuhan praktis komunitas militer.
Para arkeolog juga menemukan bahwa setelah benteng tidak lagi digunakan, kawasan tersebut mengalami perubahan fungsi. Struktur pertahanan benteng diratakan dan kemudian digantikan oleh bangunan-bangunan permukiman.
Penelitian di Kapersburg belum berakhir. Mückenberger dan timnya berencana melanjutkan penggalian pada tahun depan untuk mengungkap lebih jauh kehidupan masyarakat yang pernah tinggal di sekitar salah satu benteng perbatasan Kekaisaran Romawi tersebut. (*)
Suber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kuil Mars Dewa Perang Mitologi Romawi Benteng Romawi


























