Selasa, 01/09/2026 09:11 WIB

Peneliti: Gelas Kertas Minuman Panas Bisa Lepaskan Jutaan Partikel Plastik





Penelitian menemukan lapisan plastik di bagian dalam gelas dapat melepaskan jutaan partikel mikro dan nano ketika terkena minuman panas

Foto : Gelas kertas sekali pakai tidak selalu bebas plastik (Dok. Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Gelas kertas sekali pakai tidak selalu bebas plastik. Penelitian menemukan lapisan plastik di bagian dalam gelas dapat melepaskan jutaan partikel mikro dan nano ketika terkena minuman panas.

Gelas kertas sering dianggap sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan wadah plastik. Namun, penampilan luarnya yang terbuat dari kertas tidak berarti bagian dalamnya bebas plastik.

Sebuah penelitian yang melibatkan peneliti dari Queensland Alliance for Environmental Health Sciences (QAEHS), The University of Queensland, menemukan bahwa air panas dapat memicu pelepasan partikel plastik dari lapisan dalam gelas kertas sekali pakai.

Dikutip dari Earth, temuan ini penting karena gelas kertas digunakan setiap hari untuk kopi, teh, dan berbagai minuman panas. Lapisan tipis pada bagian dalam gelas diperlukan agar cairan tidak merembes dan struktur gelas tetap kuat.

Peneliti menguji dua jenis lapisan yang umum digunakan pada gelas kertas, yakni polyethylene (PE) dan polylactic acid (PLA).

PE merupakan plastik berbasis bahan bakar fosil, sedangkan PLA kerap digunakan sebagai alternatif yang disebut lebih mudah terurai. Dalam penelitian tersebut, keduanya sama-sama menunjukkan pelepasan partikel plastik ketika terkena air panas.

Partikel yang dilepaskan terdiri atas mikroplastik dan nanoplastik. Nanoplastik berukuran sangat kecil, bahkan dalam penelitian ini sekitar 1.000 kali lebih tipis dibandingkan rambut manusia sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Dalam percobaan, gelas berlapis PLA melepaskan sekitar 21 juta partikel nano per sendok teh atau 4,3 juta partikel per mililiter air.

Sementara itu, gelas dengan lapisan PE melepaskan sekitar 13 juta partikel per sendok teh atau 2,7 juta partikel per mililiter.

Artinya, kedua jenis lapisan tersebut sama-sama dapat menjadi sumber partikel plastik dalam air panas. Penelitian ini tidak menemukan salah satu dari keduanya sebagai pilihan yang benar-benar bebas pelepasan plastik.

Perbedaan yang lebih besar terlihat ketika peneliti menghitung total massa partikel plastik, bukan sekadar jumlah partikelnya.

Gelas dengan lapisan PLA melepaskan sekitar 12 kali lebih banyak plastik berdasarkan massa dibandingkan gelas berlapis PE dalam percobaan tersebut.

Jumlah partikel dan total massa merupakan dua ukuran yang berbeda. Sebuah sampel dapat memiliki jutaan partikel yang sangat ringan, tetapi total massanya tetap rendah.

Karena itu, perbedaan jumlah partikel tidak harus sebanding dengan perbedaan total massa yang dilepaskan.

Temuan penelitian ini perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa penggunaan gelas kertas menyebabkan penyakit atau menimbulkan risiko kesehatan tertentu.

Para peneliti mengukur jumlah partikel yang berpindah dari lapisan gelas ke air panas dalam kondisi laboratorium. Mereka tidak menguji dampak kesehatan partikel tersebut setelah masuk ke dalam tubuh manusia.

Dengan kata lain, keberadaan mikroplastik dan nanoplastik dalam air panas tidak otomatis berarti partikel tersebut akan menyebabkan gangguan kesehatan.

Dampak konsumsi mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia sendiri masih menjadi pertanyaan yang terus diteliti.

Peneliti Elvis Okoffo juga menegaskan bahwa temuan tersebut tidak berarti masyarakat harus berhenti menggunakan gelas kertas atau bahwa PLA secara otomatis tidak aman.

Salah satu poin penting dari penelitian ini adalah perlunya melihat lebih jauh dari sekadar label pada produk.

Gelas berbahan dasar kertas dapat memiliki lapisan plastik yang bersentuhan langsung dengan minuman. Bahkan material seperti PLA yang dipasarkan sebagai alternatif biodegradable tetap dapat menunjukkan perilaku pelepasan partikel ketika digunakan untuk minuman panas.

Karena itu, penilaian terhadap bahan yang digunakan untuk wadah makanan dan minuman tidak cukup hanya melihat apakah material tersebut lebih ramah lingkungan.

Perilaku material ketika bersentuhan dengan makanan atau minuman juga perlu diperhatikan, termasuk apa yang dapat dilepaskan ketika terkena suhu tinggi.

Peneliti menyarankan agar regulator mempertimbangkan pengujian pelepasan mikroplastik dan nanoplastik sebagai bagian dari evaluasi keamanan material yang digunakan untuk makanan dan minuman.

Produsen juga didorong mengembangkan lapisan gelas yang mampu mempertahankan fungsi perlindungan terhadap kebocoran sekaligus melepaskan lebih sedikit partikel ketika terkena cairan panas.

Pelabelan yang lebih jelas juga dapat membantu konsumen mengetahui bahan yang digunakan pada lapisan bagian dalam gelas, apakah PE, PLA, atau material lainnya.

Namun, penelitian ini memiliki batasan. Angka jutaan partikel yang ditemukan merupakan hasil pengujian terhadap gelas yang digunakan dalam eksperimen dan tidak dapat dianggap sebagai angka pasti untuk semua jenis gelas kertas di pasaran.

Hasil penelitian juga tidak menunjukkan bahwa seluruh produk berbahan PLA akan melepaskan jumlah partikel yang sama.

Temuan ini tidak mengubah fakta bahwa gelas kertas memiliki fungsi penting sebagai wadah sekali pakai. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa istilah "gelas kertas" tidak selalu berarti produk tersebut sepenuhnya terbuat dari kertas.

Lapisan tipis di bagian dalam justru menjadi bagian penting yang menentukan bagaimana gelas berinteraksi dengan minuman panas.

Karena itu, persoalan yang perlu diperhatikan bukan sekadar kertas versus plastik, melainkan bagaimana bahan yang bersentuhan langsung dengan minuman berperilaku selama penggunaan.

Penelitian mengenai pelepasan mikroplastik dan nanoplastik dari gelas kertas tersebut diterbitkan dalam jurnal ACS Food Science & Technology. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Gelas Kertas Minuman Panas Partikel Plastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :