Sabtu, 29/08/2026 09:00 WIB

Iran dan Oman Sepakat Buka Selat Hormuz Jika AS Penuhi Komitmen





Kami telah sepakat dengan Oman mengenai jalur pelayaran melalui Hormuz, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuk

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran dan Oman telah menyepakati jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, Iran menyatakan pembukaan kembali jalur strategis tersebut bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat dalam Islamabad Memorandum yang disepakati pada Juni.

“Kami telah sepakat dengan Oman mengenai jalur pelayaran melalui Hormuz, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuka selat itu,” kata Pezeshkian, seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (28/8).

Pezeshkian mengatakan kesepakatan mengenai jalur pelayaran tersebut juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran. Menurutnya, saat ini pemerintah Iran masih menindaklanjuti kesepakatan tersebut.

Ia menyebut Iran akan membuka kembali Selat Hormuz apabila AS memenuhi sejumlah komitmen, termasuk pencabutan sanksi dan blokade, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dimulainya investasi, serta penghentian perang di Lebanon.

“Sejauh pembicaraan telah berlangsung, mereka juga menerima bahwa kami harus kembali ke nota kesepahaman,” ujar Pezeshkian, merujuk pada pihak AS.

Pezeshkian mengatakan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah mencapai konsensus yang disebutnya “luar biasa” mengenai kesepakatan tersebut. Sebanyak 12 dari 13 anggota dewan disebut memberikan suara mendukung.

Presiden Iran itu juga mengklaim sejumlah ketentuan sebelumnya telah dijalankan ketika nota kesepahaman masih berlaku. Ia mengatakan sanksi dan blokade sempat dicabut, sementara pembicaraan mengenai pelepasan dana Iran yang dibekukan telah dimulai.

Menurut Pezeshkian, rencana investasi senilai US$300 miliar juga sedang disiapkan. Namun, ia mengatakan perang yang masih berlangsung menjadi hambatan bagi pelaksanaan berbagai proyek tersebut.

Pezeshkian menyebut impor dan ekspor Iran telah turun antara 25 hingga 35 persen. Ia juga mengatakan sanksi terhadap sektor perbankan dan petrokimia telah dicabut berdasarkan nota tersebut, sementara Iran mengekspor hampir 90 juta barel minyak selama kesepakatan berlaku.

Iran juga telah berdiskusi dengan Qatar dan Uni Emirat Arab mengenai rencana investasi. Namun, menurut Pezeshkian, proyek-proyek itu tidak dapat berjalan jika perang terus berlangsung.

Iran dan Oman sebelumnya melakukan pembicaraan mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran runtuh pada bulan lalu.

Dalam kesepakatan tersebut, AS dan Iran sebelumnya sepakat memperpanjang gencatan senjata April dan secara bertahap memungkinkan pelayaran melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum perang. Pembicaraan juga diarahkan pada penyelesaian akhir untuk mengakhiri perang yang dimulai pada Februari.

Namun, Pezeshkian mengatakan kesepakatan itu akhirnya gagal karena pihak yang terlibat tidak memenuhi komitmen yang telah disepakati.

“Kami, di pihak Iran, berupaya mengembalikan Selat Hormuz ke status sebelumnya,” katanya.

Pezeshkian juga menyinggung tekanan energi yang dihadapi Iran. Ia mengatakan pemerintah berada dalam kondisi perang, dengan sejumlah jalur terhambat, barang sulit masuk dan pendapatan negara menurun.

“Kami berada dalam kondisi perang. Pertama-tama, kami harus memahami bahwa kami sedang berperang. Jalur saat ini diblokir dan barang-barang tidak masuk. Bensin adalah salah satunya,” kata Pezeshkian.

Mengenai harga bensin, pemerintah Iran disebut belum memutuskan kapan kenaikan akan dilakukan ataupun besaran kenaikannya. Salah satu usulan yang sedang dipertimbangkan adalah pemberlakuan tingkat harga ketiga untuk konsumsi yang melebihi kuota reguler.

Pezeshkian mengatakan harga yang diusulkan untuk kuota ketiga sekitar 10.000 toman atau sekitar US$0,05. Ia membantah rumor yang menyebut harga bensin akan mencapai 50.000 toman.

Pemerintah, lanjutnya, masih harus berkonsultasi dengan lembaga peradilan dan parlemen sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Di tengah tekanan energi, Pezeshkian juga mendorong masyarakat lebih banyak menggunakan transportasi umum. Pemerintah mempertimbangkan sejumlah langkah, termasuk perluasan transportasi publik, penerapan kerja jarak jauh, peningkatan standar efisiensi kendaraan, serta elektrifikasi taksi dan sepeda motor untuk menekan konsumsi bahan bakar. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Presiden Iran Masoud Pezeshkian Iran dan Oman Selat Hormuz Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :