Langit malam 27–28 Agustus 2026 berpotensi menghadirkan pemandangan tak biasa, Gerhana Bulan sebagian berpeluang berlangsung bersamaan dengan kemunculan aurora borealis, termasuk aurora berwarna merah (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Langit malam 27–28 Agustus 2026 berpotensi menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Gerhana Bulan sebagian yang membuat sekitar 96 persen permukaan Bulan masuk ke bayangan Bumi berpeluang berlangsung bersamaan dengan kemunculan aurora borealis, termasuk aurora berwarna merah.
Peluang tersebut muncul karena badai geomagnetik G1 dan G2 diperkirakan terjadi ketika gerhana Bulan berlangsung. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) bahkan mengeluarkan peringatan badai geomagnetik G2 yang mulai berlaku pada Kamis malam, 27 Agustus waktu setempat.
Dikutip dari Live Science, kondisi tersebut membuka peluang aurora terlihat di sejumlah wilayah Amerika Serikat bagian utara hingga Kanada.
Gerhana Bulan sebagian dimulai sekitar 21.23 EDT pada 27 Agustus, mencapai puncaknya sesaat setelah tengah malam, kemudian berakhir sekitar pukul 03.00 EDT pada 28 Agustus.
Pada saat yang hampir bersamaan, badai geomagnetik diperkirakan meningkatkan peluang kemunculan aurora di lintang utara.
Astronom Tom Kerss mengatakan pengamat di Kanada dan Alaska memiliki peluang terbaik untuk menyaksikan Bulan yang memerah dan aurora dalam periode yang sama.
Meski demikian, kedua fenomena tersebut belum tentu berada di bagian langit yang sama. Posisi Bulan dan aurora terhadap horizon akan bergantung pada lokasi pengamat.
Mengapa Aurora bisa berwarna merah? Aurora borealis terjadi ketika partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan medan magnet dan atmosfer Bumi.
Partikel dari angin Matahari sebagian besar dibelokkan oleh medan magnet Bumi. Namun, sebagian lainnya masuk mengikuti garis medan magnet menuju wilayah kutub.
Ketika partikel tersebut bertabrakan dengan atom dan molekul di atmosfer, energi yang dihasilkan membuat atmosfer memancarkan cahaya.
Warna aurora bergantung pada jenis gas dan ketinggian tempat interaksi berlangsung. Oksigen pada ketinggian lebih rendah umumnya menghasilkan cahaya hijau, sedangkan pada ketinggian sekitar 200 kilometer atau lebih, oksigen dapat menghasilkan cahaya merah.
Karena itu, badai geomagnetik yang lebih kuat dapat meningkatkan peluang munculnya aurora merah dengan ketinggian tinggi. Peluang aurora kali ini berkaitan dengan aktivitas Matahari yang meningkat.
Pada 25 Agustus, sebuah semburan Matahari kelas M terdeteksi dari bintik Matahari 4513. Semburan tersebut kemudian diikuti coronal mass ejection (CME), yakni lontaran besar plasma bermuatan dari Matahari.
Awan plasma tersebut diperkirakan mencapai Bumi pada 27–28 Agustus. NOAA memperkirakan kondisi badai geomagnetik G1 hingga G2 berlangsung pada 27 Agustus sekitar pukul 17.00 hingga 23.00 EDT.
Jika material dari CME berinteraksi cukup kuat dengan medan magnet Bumi, aurora dapat terlihat lebih jauh dari wilayah kutub dibandingkan biasanya.
Ada hal menarik dari pertemuan kedua fenomena tersebut. Biasanya, Bulan purnama yang sangat terang dapat membuat aurora lebih sulit terlihat karena cahaya Bulan menerangi langit malam.
Namun saat gerhana berlangsung, sebagian besar permukaan Bulan berada di dalam bayangan Bumi. Cahaya Bulan pun menjadi jauh lebih redup.
Kondisi langit yang lebih gelap tersebut dapat meningkatkan peluang pengamat untuk menangkap aurora yang biasanya kalah terang dari cahaya Bulan purnama.
Kontras Bulan berwarna merah tembaga dengan aurora hijau atau merah berpotensi menghasilkan pemandangan langit yang sangat menarik.
Meski sering disebut sebagai blood-red moon, fenomena 27–28 Agustus sebenarnya merupakan gerhana Bulan sebagian, bukan gerhana Bulan total.
Sekitar 96 persen permukaan Bulan akan berada di dalam bayangan Bumi, tetapi tidak seluruh permukaan Bulan masuk ke umbra. Karena itu, secara teknis fenomena ini bukan blood moon dalam pengertian gerhana Bulan total.
Meski demikian, kedalaman gerhananya membuat fenomena tersebut menjadi istimewa. Gerhana ini diperkirakan menjadi gerhana Bulan terdalam di dunia hingga gerhana Bulan total berikutnya pada 31 Desember 2028.
Bagaimana dengan Indonesia? Fenomena aurora borealis yang dibahas dalam data tersebut berkaitan dengan wilayah lintang utara, terutama Amerika Utara, Kanada dan Alaska.
Sementara itu, gerhana Bulan pada 27–28 Agustus juga tidak dapat diamati langsung dari Indonesia karena rangkaian gerhana berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon Indonesia. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Fenomena Astronomi Gerhana Bulan Aurora Borealis Aurora Berwarna Merah
























