Operasi penyelamatan bencana banjir Nepal-Tibet (Foto: AP)
Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok mempercepat penghapusan konten grafis, video hasil kecerdasan buatan (AI), hingga kode QR donasi palsu yang beredar setelah bencana banjir bandang dan longsor mematikan.
Permintaan tersebut disampaikan dalam pertemuan pejabat pemerintah Nepal dengan perwakilan kedua platform media sosial di Nepal. Pemerintah khawatir konten menyesatkan dapat membingungkan masyarakat, menghambat operasi bantuan, sekaligus menambah penderitaan keluarga korban.
Menurut laporan The Kathmandu Post, pemerintah meminta Meta dan TikTok segera menghapus konten bermasalah setelah menerima laporan.
Koordinator gugus tugas regulasi dan pengelolaan media sosial pemerintah Nepal, Bijay Kumar Roy, mengatakan platform diminta mengambil tindakan lebih cepat terhadap konten yang dinilai menyesatkan atau tidak pantas.
Pejabat Nepal juga mendorong Meta dan TikTok membuat sistem algoritma yang lebih proaktif dalam mendeteksi serta memblokir konten grafis dan informasi palsu.
Pemerintah menemukan sejumlah rekaman lama yang kembali disebarkan seolah-olah merupakan gambar atau video dari bencana terbaru. Di sisi lain, video dan gambar yang dibuat menggunakan AI juga disebut beredar dengan klaim sebagai dokumentasi nyata.
Ancaman lain datang dari kode QR donasi palsu yang meminta masyarakat menyumbangkan uang untuk korban banjir. Konten semacam ini berpotensi mengarahkan bantuan masyarakat kepada pihak yang tidak berkaitan dengan penanganan bencana.
Pemerintah Nepal mengatakan Meta dan TikTok saat ini membutuhkan waktu sekitar 24 hingga 48 jam untuk merespons laporan konten. Waktu tersebut dinilai terlalu lama dalam situasi darurat ketika informasi palsu dapat menyebar dengan cepat.
Permintaan pemerintah Nepal muncul ketika operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung setelah banjir dan longsor menerjang wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu.
Banjir menyapu sejumlah permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli. Bencana tersebut menghancurkan rumah, jembatan dan jalan.
Di sisi China, lumpur dan material longsoran menerjang Gyirong Port di Gyirong County, wilayah Xizang Autonomous Region atau Tibet. Akses jalan, komunikasi dan jaringan listrik turut terdampak.
Ratusan warga, pekerja konstruksi dan wisatawan di wilayah Gyirong County telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Data yang dikutip dalam laporan tersebut menyebut total korban meninggal akibat banjir di Nepal dan China mencapai 543 orang, sementara 1.281 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 856 warga negara asing. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Banjir Bandang Banjir Nepal-China Korban Banjir Konten AI


























