Kendaraan militer Ukraina saat menghadapi Rusia (Foto: AFP)
Moskow, Jurnas.com - Rusia menyatakan keterbukaannya untuk mendengarkan berbagai usulan baru terkait penyelesaian konflik di Ukraina. Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa setiap proposal yang diajukan harus mencerminkan realitas di lapangan.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah menunjukkan kesiapan untuk menjalin dialog konstruktif, serta menunjukkan pemahaman terhadap posisi Rusia.
"Pada tahap ini, hal yang lebih penting adalah sejauh mana Washington mampu memengaruhi keputusan rezim Kyiv dan para sponsor Eropanya, yang masih mengimpikan `kekalahan strategis` bagi Rusia," ujar Ryabkov dikutip dari Reuters pada Jumat (21/8).
Proses negosiasi antara Rusia dan AS untuk mengakhiri konflik di Ukraina dilaporkan mengalami kemandekan, di tengah fokus pertempuran yang meluas di Iran.
Juru bicara Kremlin sempat menyatakan bahwa pihak Moskow belum menerima informasi mengenai jadwal kunjungan lanjutan utusan presiden AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, yang sebelumnya memimpin rangkaian negosiasi dengan pihak Rusia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Juli lalu menegaskan komitmen Washington untuk membantu mengakhiri perang usai melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Manila. Namun, Rubio memberi peringatan bahwa tidak ada kesepakatan instan dan AS terus berupaya mencari titik tengah.
Ryabkov menegaskan bahwa pihak Moskow siap mendengarkan gagasan baru dari Rubio serta melanjutkan proses dialog dengan pemerintah AS.
"Federasi Rusia siap mendengarkan setiap usulan dan gagasan masuk akal yang sejalan dengan tujuan yang ditetapkan oleh Presiden Rusia serta memenuhi `realitas di lapangan`," ungkap Ryabkov.
Setelah berlangsung selama hampir empat setengah tahun, Rusia saat ini menguasai sekitar seperlima dari total wilayah Ukraina yang diakui secara internasional.
Moskow berulang kali menegaskan keterbukaannya untuk berunding, namun dengan syarat utama bahwa realitas wilayah baru tersebut harus diakui. Ryabkov juga mengindikasikan keinginan Rusia untuk tetap mempertahankan ruang diskusi dengan AS mengenai kontrol senjata nuklir.
Masa berlaku Perjanjian Nuklir New START telah berakhir pada Februari lalu. Berakhirnya perjanjian tersebut menandai pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad dua kekuatan nuklir terbesar dunia bergerak tanpa batasan mengikat terhadap persenjataan strategis mereka.
Rusia berkomitmen tetap mematuhi batasan jumlah rudal dan hulu ledak yang diatur dalam perjanjian tersebut selama Washington melakukan hal yang sama.
"Kami tetap terbuka di masa mendatang untuk menemukan langkah-langkah politik dan diplomatik guna menstabilkan sektor ini," tutup Ryabkov.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Rusia vs Ukraina Perjanjian Nuklir New START Negosiasi Perdamaian
























