Ilustrasi kecerdasan buatan (Foto: Earth)
Zurich, Jurnas.com - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak akan memicu hilangnya lapangan kerja, meskipun ada kekhawatiran bahwa teknologi tersebut akan menggantikan manusia. Hal ini muncul dalam studi yang dilakukan perusahaan perekrutan Adecco Group pada Kamis (23/7).
Para pemberi kerja telah menyebut AI bertanggung jawab atas hampir seperempat pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat pada 2026, berdasarkan data perusahaan penempatan tenaga kerja global Challenger, Gray & Christmas.
Senada, bulan ini Microsoft memangkas sekitar 2,1 persen tenaga kerjanya, mengikuti jejak HSBC Holdings, Amazon, dan Standard Chartered dalam gelombang PH, guna mengalihkan investasi ke sektor AI.
Namun, Denis Machuel, CEO Adecco yang berbasis di Zurich selaku perusahaan perekrutan terbesar di dunia, mengatakan bahwa beberapa perusahaan menggunakan AI sebagai kedok untuk pemotongan pekerja, yang sebenarnya disebabkan oleh kinerja yang melemah, restrukturisasi, atau masalah lainnya.
"AI membawa evolusi besar-besaran dalam dunia kerja, tetapi kiamat pekerjaan tidak terlihat di depan mata. Ini lebih tentang mengubah peran dan tugas daripada menghilangkan pekerjaan," kata Machuel dikutip dari Reuters.
Sebaliknya, lanjut Adecco, tiga setengah tahun setelah peluncuran chatbot AI ChatGPT milik OpenAI, tingkat penyerapan tenaga kerja berada pada rekor tertinggi, dan angka pengangguran mendekati rekor terendah dalam sejarah, mengutip data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang berbasis di Paris.
"Revolusi industri sebelumnya mulai dari penemuan tenaga uap, listrik, teknologi informasi, hingga internet telah mengubah pekerjaan tanpa menyebabkan kehancuran lapangan kerja secara massal," ujar Machuel.
"Dengan data yang kita miliki sejauh ini, tidak ada bukti bahwa kita akan menghadapi skenario yang berbeda dengan AI," dia menambahkan.
Menurut Machuel, beberapa pekerjaan tingkat pemula (entry-level) memang menghilang, tetapi pemberi kerja tidak bisa begitu saja memangkas posisi junior tanpa merusak jalur pengembangan bakat masa depan.
Perusahaan perlu menciptakan kembali pekerjaan-pekerjaan tersebut sehingga AI dapat melengkapinya, seraya mencatat bahwa peningkatan keterampilan (upskilling), pelatihan keterampilan baru (re-skilling), dan kolaborasi yang lebih erat antara perusahaan, pemerintah, serta sistem pendidikan merupakan hal yang sangat esensial.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kecerdasan Buatan Gelombang PHK Lapangan Kerja Hilang Pekerjaan Masa Depan Bahaya AI























