Ilustrasip esawat terbang (Foto: Pexels/Pixabay)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap kali terjadi erupsi gunung berapi, ruang udara di sekitarnya kerap langsung diumumkan sebagai zona bahaya penerbangan. Otoritas penerbangan biasanya menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) hingga menutup bandara terdekat.
Lantas, mengapa erupsi gunung menjadi momok menakutkan bagi industri penerbangan? Jawabannya terletak pada kombinasi material mikroskopis abu vulkanik dan cara kerja mesin jet komersial.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut sederet risiko mematikan abu vulkanik bagi pesawat di udara:
1. Mesin Jet Mati Mendadak (Flameout)
Risiko paling berbahaya terjadi pada mesin. Komponen abu vulkanik didominasi oleh partikel silika dan kaca vulkanik. Ketika masuk ke dalam ruang bakar mesin jet yang suhunya bisa mencapai lebih dari 1.000 hingga 2.000 derajat Celsius, partikel silika ini akan meleleh instan.
Abu Vulkanik vs Debu Biasa, Kenali Perbedaannya
Lelehan silika cair tersebut kemudian terbawa ke bagian turbin yang lebih dingin, lalu membeku kembali dan menempel padat di bilah-bilah turbin (turbine blades). Penumpukan lapisan kaca padat ini menyumbat aliran udara, mengganggu pembakaran, hingga menyebabkan mesin mengalami mogok mendadak di udara (flameout).
Kasus paling legendaris terjadi pada 1982 ketika pesawat British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu vulkanik Gunung Galunggung di Jawa Barat. Keempat mesin jetnya mendadak mati total di ketinggian 37.000 kaki.
Beruntung, pilot berhasil melakukan gliding ke area udara bersih dan berhasil menyalakan kembali tiga mesin sebelum mendarat darurat di Jakarta. Kasus serupa menimpa KLM Flight 867 pada tahun 1989 akibat erupsi Gunung Redoubt di Alaska.
2. Kaca Kokpit Terkikis
Pesawat melaju di udara dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Saat menembus awan abu vulkanik, partikel tajam dan bertekstur kasar dari abu tersebut bertindak seperti ampelas (sandpaper) berkecepatan tinggi.
Fenomena yang dikenal sebagai sandblasting effect ini mengikis cat luar pesawat dan menggores kaca depan kokpit. Akibatnya, kaca kokpit bisa kehilangan transparansinya sepenuhnya, memaksa pilot mendaratkan pesawat dengan jarak pandang nol melalui kaca depan.
3. Tersumbatnya Sensor Ketinggian dan Kecepatan
Di bagian luar badan pesawat terdapat tabung kecil bernama Pitot-Static Tube. Sensor ini berfungsi mengukur tekanan udara untuk mengalkulasi kecepatan dan ketinggian pesawat secara akurat.
Partikel abu vulkanik yang sangat halus berisiko tinggi menyumbat lubang-lubang kecil pada sensor Pitot. Jika tersumbat, instrumen di dalam kokpit akan memberikan pembacaan data kecepatan yang keliru atau tidak konsisten, sebuah kondisi darurat yang sangat membahayakan navigasi penerbangan.
4. Tidak Terdeteksi oleh Radar Cuaca Biasa
Satu tantangan terbesar bagi pilot ialah bahwa radar cuaca standar di dalam pesawat dirancang untuk mendeteksi tetesan air dan es, bukan partikel silika. Artinya, awan abu vulkanik sering kali tampak tak terlihat pada layar radar.
Maskapai dan pilot sangat bergantung pada laporan Volcanic Ash Advisory Centers (VAAC) dan pantauan satelit darat untuk memetakan sebaran awan abu tersebut.
Sifatnya yang sangat merusak dan sulit dideteksi secara langsung membuat otoritas penerbangan tidak pernah mengambil risiko. Memutar arah rute penerbangan atau menutup ruang udara adalah pilihan mutlak demi keselamatan awak dan penumpang.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
abu vulkanik bahaya penerbangan mesin pesawat gunung anak krakatau























