Minggu, 06/09/2026 16:46 WIB

Asal Usul Nama Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda





 Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gung berapi yang berada di kawasan kaldera Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau Erupsi (Foto: Biro KLIK Kementerian ESDM)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gung berapi yang berada di kawasan kaldera Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda. Gunung api yang terus tumbuh dan aktif erupsi ini menjulang di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. 

Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung memiliki sejarah panjang dan lahir dari kawasan Krakatau yang pernah mengalami salah satu letusan terbesar dalam sejarah.

Nama Krakatau telah dikenal selama berabad-abad, jauh sebelum letusan dahsyat 27 Agustus 1883 membuat gunung api di Selat Sunda tersebut dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia.

Letusan 1883 bahkan disebut Simon Winchester dalam buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 sebagai salah satu dari lima letusan terbesar dalam sejarah geologi Bumi, bersama Toba, Tambora, Taupo di Selandia Baru dan Katmai di Alaska. Kemajuan teknologi telegraf dan kabel bawah laut pada masa itu membuat kabar letusan Krakatau dapat menyebar dengan sangat cepat. 

Setelah Krakatau relatif tenang selama puluhan tahun, aktivitas vulkanik kembali muncul. Erupsi pada 11 Juni 1930 kemudian dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Sejak itu, Anak Krakatau terus tumbuh akibat aktivitas vulkanik. Kerucutnya pernah mencapai sekitar 300 meter dari permukaan laut dan luas daratannya juga terus bertambah.

Di balik ketenarannya, asal-usul nama "Gunung Krakatau" dan “Gunung Anak Krakatau” turut menyimpan beragam penafsiran dan atau teori. Lantas, mengapa dinamakan Gunung Krakatau dan Anak Krakatau? Bagaimana asal usul penamaannya? Berikut adalah ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Salah satu catatan tertulis paling awal mengenai nama tersebut ditemukan dalam naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15.

Dalam catatan perjalanan itu, pulau tersebut disebut sebagai “pulo Rakata, sebuah gunung di tengah laut.” Nama Rakata kemudian muncul dalam berbagai bentuk ejaan pada catatan para pelaut dan pembuat peta Eropa.

Pada 1611, kartografer Lucas Janszoon Waghenaer mencatatnya sebagai Pulo Carcata. Kata pulo sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti pulau.

Seiring waktu, muncul berbagai ejaan seperti Crackatouw, Cracatoa dan Krakatao dalam catatan pelayaran Portugis dan Belanda.

Krakatau atau Krakatoa? Perbedaan penyebutan Krakatau dan Krakatoa juga berkaitan dengan sejarah pencatatan nama tersebut oleh orang Eropa. Bentuk Krakatoa kemudian menjadi sangat umum dalam literatur berbahasa Inggris, terutama setelah pemberitaan mengenai letusan 1883 menyebar luas.

Sementara itu, Krakatau merupakan bentuk yang digunakan dalam bahasa Indonesia dan tradisi lokal. Perbedaan tersebut lebih berkaitan dengan perkembangan ejaan dalam berbagai bahasa daripada keberadaan dua gunung yang berbeda.

Salah satu teori yang dianggap memiliki dasar linguistik adalah hubungan nama Krakatau dengan kata dalam bahasa Sanskerta karka, karkaṭa atau karkata, yang berkaitan dengan lobster atau kepiting.

Dalam bahasa Jawa Kuno, bentuk rakaṭa juga memiliki makna yang berkaitan dengan udang atau kepiting. Kemiripan antara Rakata dalam naskah Bujangga Manik dan berbagai bentuk nama Krakatau dalam catatan lama membuat teori ini dianggap masuk akal.

Teori tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan fauna laut di kawasan pulau sebelum kehancuran besar akibat letusan 1883.

Ada pula teori yang menghubungkan nama Krakatau dengan suara burung. Pastur Jesuit asal Prancis, Guy Tachard, dalam catatan pelayarannya menyebut pulau tersebut sebagai Cacatoua dan mengaitkannya dengan burung-burung putih yang disebut terus-menerus mengeluarkan suara menyerupai nama tersebut.

Namun, teori ini kemudian dipersoalkan karena burung kakatua secara alami tidak hidup di wilayah Selat Sunda. Habitat alaminya disebut berada di sebelah timur Garis Wallace.

Karena itu, teori yang menghubungkan Krakatau dengan burung kakatua dinilai lebih lemah dibandingkan teori yang mengaitkannya dengan istilah Rakata atau kata yang berhubungan dengan kepiting dan udang.

Teori lain yang pernah populer di Batavia bahkan jauh lebih unik. Konon, seorang kapten kapal asing menunjuk gunung kepada seorang nelayan lokal dan bertanya mengenai namanya.

Karena tidak memahami pertanyaan tersebut, nelayan itu disebut menjawab, “kaga tau”, yang berarti tidak tahu. Jawaban tersebut kemudian dipercaya secara bercanda sebagai asal mula nama Krakatau.

Namun, kisah tersebut merupakan mitos linguistik dan tidak memiliki dasar sejarah yang kuat. Cerita serupa juga dikenal dalam berbagai kisah asal-usul nama tempat di belahan dunia lain.

Ada pula teori yang menghubungkan Krakatau dengan kata Melayu kelakatu, yang berarti semut bersayap atau laron. Teori ini mencoba menjelaskan bentuk gugusan pulau Krakatau bersama Pulau Lang dan Pulau Verlaten pada peta lama, tetapi juga dianggap spekulatif.

Apa pun asal kata Krakatau yang paling tepat, nama tersebut kemudian diwariskan kepada generasi baru gunung api di tengah Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau muncul dari kawasan kaldera Krakatau dan mulai tumbuh setelah aktivitas vulkanik kembali muncul pada 1927. Erupsi berikutnya membuat tubuh gunung terus berkembang hingga dikenal sebagai Anak Krakatau.

Gunung ini kemudian mengalami perubahan besar setelah sebagian tubuhnya runtuh pada 22 Desember 2018 dan memicu tsunami di Selat Sunda. Aktivitas vulkaniknya kembali berlanjut dan pada awal September 2026 Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. (*)

KEYWORD :

Gunung Anak Krakatau Selat Sunda Erupsi Anak Krakatau




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :