Kamis, 23/07/2026 18:03 WIB

Wamen Stella Sarankan Mahasiswa Hindari Kampus Khusus AI, Kenapa?





Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengingatkan para mahasiswa agar tidak tergantung dengan AI

Wamendiktisaintek, Stella Christie, dalam kegiatan Tanoto Scholars Gathering 2026 di Riau (Foto: Muti/Jurnas.com)

Pekanbaru, Jurnas.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengingatkan para mahasiswa agar tidak terlena dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Dia beralasan bahwa kegandrungan masyarakat terhadap AI saat ini layaknya fenomena `bubble` yang pernah terjadi di beberapa belahan dunia. Salah satunya, tulip bubble atau masa-masa ketika tulip menjadi komoditas utama dan merajai ekonomi Eropa pada abad ke-17, namun pada satu titik hancur dan tidak tersisa.

"Jadi cara tahu atau mendiagnosa ialah, ketika semua persoalan itu solusinya cuma satu. Seperti abad ke-17, semua solusinya tulip. Semuanya tentang tulip," kata Wamen Stella dalam rangkaian Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau pada Kamis (23/7).

Karena itu, Wamen Stella menilai keberadaan AI saat ini sedang menciptakan bubble baru yang berpeluang pecah pada masanya, lantaran AI dijadikan rujukan utama dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi dan bisnis.

Dengan demikian, peran perguruan tinggi mulai menjadi pertanyaan, mengingat banyak pertanyaan sudah dapat dijawab oleh AI. Dia mencontohkan, Program Studi Computer Science yang dulunya diminati, kini lulusannya mulai kesulitan mencari pekerjaan akibat penetrasi AI untuk kebutuhan koding.

"Nah, ini menjadi pertanyaan krusial. Bagaimana agar apa yang kalian pelajari di perguruan tinggi, bisa relevan dengan kehidupan? Kalau menurut saya, pastikan kita tidak modus pergi ke universitas yang hanya mengajarkan satu prodi, yaitu Prodi AI-ology," ujar Wamen Stella.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella juga mengajak para penerima beasiswa program TELADAN Tanoto Foundation (Tanoto Scholars) untuk mengurangi ketergantungan dengan AI selama proses studi. Imbauan serupa juga dialamatkan kepada pelajar yang masih duduk di bangku SMP hingga SMA.

"Karena sudah banyak bukti saintifik yang memperlihatkan jika ketika mahasiswa, SMA, SMP, menggunakan AI orang itu kemampuannya membuat pekerjaan itu lebih buruk, tidak terjadi proses berpikir tentang bagaimana sulitnya menyelesaikan suatu pekerjaan," kata dia.

Karena itu, Wamen Stella menekankan supaya fenomena AI diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan inovatif secara individu. Soft skill semacam ini, menurut Wamen Stella, menjadikan tenaga manusia masih tetap dibutuhkan dalam menyaring dan mengevaluasi luaran (output) yang dihasilkan AI.

"AI selalu punya output. Kalau si manusianya tidak tahu yang dikeluarkan AI ini benar atau tidak, solusinya sudah elegan atau tidak, itulah yang bahaya," dia menambahkan.

Sementara itu, Head of Leadership Development and Scholarship Tanoto Foundation, Yosea Kurnianto, dalam laporannya mengatakan bahwa para Tanoto Scholars setelah 18 bulan pertama menjadi penerima program TELADAN, telah menjadi program pengembangan diri Lead Self.

Program ini mendorong para Tanoto Scholars fokus pada pengenalan diri sendiri, dan berusaha menjadi pemimpin untuk dirinya dengan mengetahui kelemahan dan kekurangan, serta mengelola pemrosesan emosional (emotional process).

"Kita mengedepankan human skill mereka. Dan kami juga tekankan, bahwa apapun yang kelak terjadi pada kehidupan, mereka disiapkan untuk menjadi pemimpin di organisasi, masyarakat, dan negara," ujar Yosea.

KEYWORD :

Kecerdasan Buatan Wamendikti Stella Stella Christie TSG 2026




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :