Jum'at, 10/07/2026 02:47 WIB

Bulan Safar Membawa Kesialan, Benarkah?





Bulan Safar, masih ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa bulan kedua dalam kalender Hijriah ini identik dengan datangnya kesialan atau musibah.

Ilustrasi - bulan Safar yang disebut penuh kesialan, simak penjelasan dalam hadis Nabi Muhammad SAW (Foto: Pexels/Allan Feitor)

Jakarta, Jurnas.com - Memasuki Bulan Safar, masih ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa bulan kedua dalam kalender Hijriah ini identik dengan datangnya kesialan atau musibah.

Keyakinan tersebut membuat sebagian orang memilih menunda pernikahan, mengurungkan perjalanan jauh, bahkan menghindari memulai usaha baru.

Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur`an maupun hadis sahih yang menyebut Bulan Safar sebagai bulan pembawa sial. Sebaliknya, Islam justru meluruskan keyakinan yang berkembang sejak masa Arab jahiliah tersebut.

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki berbagai kepercayaan yang bersifat tahayul. Salah satunya adalah menganggap Bulan Safar sebagai waktu yang dipenuhi malapetaka sehingga berbagai aktivitas penting, seperti bepergian atau berdagang, kerap ditunda.

Kepercayaan ini kemudian dihapus oleh Rasulullah SAW melalui sabda beliau yang menegaskan bahwa tidak ada waktu tertentu yang membawa kesialan dengan sendirinya.

Beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena suatu pertanda), tidak ada keyakinan terhadap burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi dalil utama bahwa Bulan Safar tidak memiliki hubungan dengan datangnya musibah ataupun nasib buruk. Semua yang terjadi di alam semesta berlangsung atas kehendak Allah SWT.

Dalam pandangan Islam, meyakini bahwa suatu bulan dapat mendatangkan kesialan merupakan bentuk keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat.

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam thiyarah atau tathayyur, yaitu merasa sial karena waktu, tempat, hewan, atau tanda tertentu.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Artinya: "Thiyarah (meyakini kesialan karena pertanda tertentu) adalah perbuatan syirik, thiyarah adalah perbuatan syirik, thiyarah adalah perbuatan syirik." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah apabila seseorang meyakini secara penuh bahwa suatu pertanda memiliki kekuatan mendatangkan manfaat atau mudarat tanpa kehendak Allah SWT.

Karena tidak ada dalil yang menganggap Safar sebagai bulan sial, umat Islam bebas melakukan berbagai aktivitas yang dibenarkan syariat pada bulan tersebut.

Menikah, membuka usaha, membeli rumah, melakukan perjalanan jauh, maupun memulai pekerjaan baru tetap diperbolehkan selama dilakukan dengan cara yang halal dan disertai tawakal kepada Allah SWT.

Bahkan dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW, terdapat sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada Bulan Safar, seperti dimulainya hijrah menuju Madinah dan berbagai ekspedisi dakwah. Hal ini menunjukkan bahwa Safar bukanlah bulan yang harus dihindari.

Daripada mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar agama, umat Islam dianjurkan mengisi Bulan Safar dengan berbagai amal kebajikan.

Memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur`an, berzikir, bersedekah, hingga menjalankan puasa sunnah menjadi amalan yang lebih dianjurkan daripada sibuk memikirkan anggapan tentang kesialan.

Allah SWT juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia terjadi atas izin-Nya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa musibah maupun keberuntungan tidak ditentukan oleh waktu atau bulan tertentu, melainkan sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT.

KEYWORD :

Info Keislaman Rasulullah SAW Bulan Safar Bulan Sial Hadis Nabi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :