Kapal selam China (Foto: DW)
Washington, Jurnas.com - Amerika Serikat (AS) menyuarakan kekhawatirannya yang mendalam terhadap program nuklir Beijing. Respons ini muncul menyusul tindakan China yang menembakkan hulu ledak tiruan ke perairan Samudra Pasifik, yang menjadi manuver terbaru dalam percepatan modernisasi militer negara tersebut.
Uji coba pada Senin (6/7) kemarin berlangsung dua tahun pascapeluncuran misil balistik antarbenua oleh China ke kawasan perairan di dekat Polinesia Prancis. Peristiwa sebelumnya itu sempat tercatat sebagai peluncuran rudal sejenis pertama di atas perairan internasional dalam kurun waktu lebih dari empat dekade.
Sejumlah pengamat militer menilai bahwa uji coba ini membuktikan adanya peningkatan kapasitas China untuk melancarkan serangan hingga ke daratan AS. Saat ini, Washington masih memandang kekuatan Asia tersebut sebagai rival utamanya, kendati terdapat upaya rekonsiliasi yang digagas pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
"Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mencegah proliferasi nuklir, China melakukan hal yang sebaliknya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott dikutip dari AFP pada Selasa (7/7).
"Pembangunan senjata nuklir Beijing yang cepat dan tidak transparan merupakan kekhawatiran besar bagi kawasan dan dunia," dia menambahkan.
Pada Februari lalu, pemerintah AS membiarkan berakhirnya kesepakatan New START, yang merupakan pakta pengendalian senjata besar terakhir dengan Rusia. Langkah ini diambil karena Washington menuntut adanya perjanjian baru yang juga turut mengikat China.
Meski demikian, usulan tersebut telah ditolak oleh China. Walaupun jumlah persenjataan nuklir negara itu terpaut jauh di bawah milik Rusia, daya perangnya dilaporkan terus mengalami lonjakan yang masif.
"Departemen Luar Negeri AS mendesak China untuk terlibat dalam diskusi pengendalian senjata yang bermakna dan berkomitmen pada pengaturan pemberitahuan yang teratur untuk semua peluncuran rudal balistik antarbenua dan peluncuran ruang angkasa," demikian pernyataan AS.
Pemerintah Selandia Baru mengungkapkan bahwa pengujian itu dilaksanakan hanya dua jam setelah China menginformasikan rencana peluncuran rudal kepada negara-negara Pasifik. Namun, belum bisa dipastikan secara jelas apakah China juga memberikan pemberitahuan serupa kepada AS.
Juru bicara angkatan laut China Wang Xuemeng dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa peluncuran uji coba tersebut adalah agenda rutin dari pelatihan militer tahunan China, dan negara-negara terkait telah diberitahu sebelumnya.
Diketahui, roket yang diluncurkan dari kapal selam nuklir diduga kuat jatuh di area sekitar Kepulauan Solomon. Negara di wilayah Pasifik Selatan ini diketahui pernah meneken pakta keamanan rahasia bersama China pada 2022 lalu, sebuah dokumen yang saat ini tengah dievaluasi oleh pemerintahan baru negara tersebut.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Rudal Jarak Jauh China Latihan Perang Senjata Nuklir


























