Ilustrasi - menikah (Foto: detik)
Jakarta, Jurnas.com - Mengarungi kehidupan rumah tangga tidak selalu diwarnai ketenangan tanpa gejolak.
Dalam perjalanannya, setiap pasangan akan dihadapkan pada berbagai ujian, baik yang berkaitan dengan persoalan ekonomi, perbedaan prinsip, maupun karakter yang tidak selalu sejalan.
Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut merupakan bagian dari ketetapan Allah atau sunnatullah yang tidak bisa dihindari.
Ujian dalam kehidupan, termasuk dalam pernikahan, telah ditegaskan dalam Al-Qur`an:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan…” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah keniscayaan yang akan dialami setiap manusia, termasuk dalam kehidupan berumah tangga.
Oleh karena itu, memandang konflik sebagai musibah semata perlu diubah menjadi cara pandang yang lebih bijak, yakni sebagai sarana peningkatan kualitas diri dan penghapus dosa.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa setiap kesulitan yang dialami seorang mukmin memiliki nilai kebaikan di sisi Allah:
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, sakit, kegelisahan, atau kesedihan, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari)
Ketegangan antara suami dan istri sejatinya bukan sekadar konflik, tetapi juga ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kesabaran, empati, dan akhlak mulia.
Rumah tangga yang kokoh bukanlah yang bebas dari masalah, melainkan yang mampu mengelola masalah dengan landasan iman dan ketakwaan.
Dalam Al-Qur`an, Allah SWT juga memberikan pedoman dalam memperlakukan pasangan dengan baik, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini mengajarkan bahwa di balik hal-hal yang tampak tidak menyenangkan dalam diri pasangan, bisa jadi tersimpan kebaikan yang besar yang belum disadari.
Tidak hanya itu, kehadiran anak dalam keluarga pun dapat menjadi ujian tersendiri yang membutuhkan kebijaksanaan dalam menyikapinya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka…” (QS. At-Taghabun: 14)
Dalam menghadapi berbagai ujian tersebut, diperlukan keseimbangan antara doa dan ikhtiar agar rumah tangga tetap berada dalam suasana sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Teladan terbaik dapat dilihat dari kehidupan Rasulullah SAW yang juga mengalami dinamika dalam rumah tangga, namun tetap menyikapinya dengan kebijaksanaan dan kesabaran.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Ujian Pernikahan Rasulullah SAW Kitab Al-Qur`an
























