Sabtu, 25/04/2026 10:05 WIB

Studi: Malaria Tentukan Pola Permukiman Manusia Purba Selama 74.000 Tahun





studi terbaru menunjukkan bahwa penyakit seperti malaria juga berperan besar dalam menentukan di mana manusia bisa bertahan hidup

Malaria merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina (Foto: Alodokter)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim selama ini dianggap sebagai faktor utama yang membentuk pola kehidupan manusia purba. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa penyakit seperti malaria juga berperan besar dalam menentukan di mana manusia bisa bertahan hidup.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances mengungkap bahwa nyamuk pembawa malaria memengaruhi pola permukiman manusia selama sekitar 74.000 tahun terakhir, jauh sebelum era pertanian dimulai.

Selama ini, wilayah hangat dan lembap dianggap ideal bagi manusia karena kaya sumber air dan makanan. Namun, kondisi tersebut juga menjadi habitat ideal bagi nyamuk pembawa malaria, sehingga menciptakan risiko besar bagi manusia purba.

Studi ini dipimpin oleh Margherita Colucci dari Max Planck Institute of Geoanthropology dan University of Cambridge. Para peneliti menggunakan model distribusi spesies nyamuk dan data iklim purba untuk memetakan risiko penyebaran malaria di Afrika Sub-Sahara.

“Kami menggunakan model distribusi tiga kelompok utama nyamuk bersama model paleoklimat. Dengan menggabungkannya dengan data epidemiologi, kami dapat memperkirakan risiko penularan malaria di Afrika Sub-Sahara,” ujar Colucci dikutip dari Earth, pada Sabtu (25/4).

Hasilnya menunjukkan pola yang jelas: manusia purba cenderung tinggal di wilayah dengan risiko malaria rendah. Sebaliknya, daerah dengan risiko tinggi relatif jarang dihuni, yang mengindikasikan adanya upaya menghindari ancaman penyakit.

Perubahan iklim juga memengaruhi penyebaran malaria, sehingga membuka atau menutup jalur migrasi manusia. Dalam beberapa periode, wilayah berisiko rendah menjadi koridor aman yang menghubungkan populasi, sementara di waktu lain, zona berisiko tinggi justru menghambat pergerakan.

Profesor Andrea Manica dari University of Cambridge menyebut dampaknya sangat besar terhadap struktur populasi manusia. “Pilihan-pilihan ini membentuk demografi manusia selama 74.000 tahun terakhir, bahkan mungkin lebih lama,” ujarnya.

Ia menambahkan, malaria turut memecah populasi manusia menjadi kelompok-kelompok terpisah. “Dengan memfragmentasi masyarakat manusia, malaria berkontribusi pada struktur populasi yang kita lihat saat ini.”

Bukti lain datang dari genetika manusia, khususnya mutasi sel sabit yang memberikan perlindungan terhadap malaria. Mutasi ini diperkirakan muncul sekitar 25.000 tahun lalu di Afrika Barat dan berkorelasi dengan meningkatnya kemampuan manusia untuk bertahan di wilayah berisiko tinggi.

Seiring berkembangnya adaptasi genetik, manusia mulai menghuni daerah yang sebelumnya berbahaya. Sekitar 14.000 hingga 10.000 tahun lalu, tren ini semakin kuat, menunjukkan bagaimana evolusi biologis membantu manusia menghadapi ancaman penyakit.

Penelitian ini juga membuka pendekatan baru dalam memahami sejarah penyakit. Alih-alih meneliti patogen secara langsung, ilmuwan mempelajari organisme pembawanya, seperti nyamuk, untuk merekonstruksi pola penyebaran penyakit di masa lalu.

Profesor Eleanor Scerri dari Max Planck Institute of Geoanthropology menilai temuan ini sebagai terobosan penting. “Penyakit jarang dianggap sebagai faktor utama dalam prasejarah manusia, dan penelitian ini mengubah perspektif tersebut,” ujarnya.

Temuan ini menegaskan bahwa evolusi manusia tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan fisik, tetapi juga oleh ancaman biologis. Interaksi antara iklim, penyakit, dan adaptasi manusia menjadi kunci dalam membentuk perjalanan panjang peradaban manusia. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Penyakit Malaria Pola Permukiman Manusia Purba Nyamuk pembawa malaria




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :