Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (BPP GINSI) Erwin Taufan. Foto: dok. jurnas
JAKARTA, Jurnas.com - Kalangan Importir Nasional mulai kelimpungan dan mereka memilih mengambil langkah wait and see menyikapi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat (AS) akibat ketidakpastian global dan eskalasi perang di Timur Tengah, saat ini.
"Kalau seperti ini terus kondisinya sih berat bagi pelaku usaha. Banyak teman-teman importir yang sudah kelimpungan (bingung dan panik) bagaimana agar bisa tetap bertahan. Yang pasti kita ngerem dulu lah, kecuali mereka yang sudah terlanjur melakukan pembelian," ujar Wakil Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Erwin Taufan, melalui keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Dia mengungkapkan, pelemahan rupiah yang terus berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada barang modal dan yang berkaitan dengan bahan baku.
Taufan mengatakan, kondisi tersebut akan berdampak pada naiknya harga jual di pasaran sementara disisi lain daya beli masyarakat saat ini pun sedang tidak baik-baik saja, bahkan berpotensi alami penurunan 15-20%.
"Makanya kami (importir) memilih wait and see sambil melihat kebijakan seperti apa yang akan diambil pemerintah untuk menutupi kebutuhan bahan baku yang masih harus di impor di tengah gonjang-ganjing kurs dollar saat ini. Importir perlu lebih selektif dalam memilih mitra dan meningkatkan efisiensi operasionalnya untuk menghadapi ketidakpastian itu, " ucapnya.
Dia mengemukakan, melemahnya mata uang Rupiah terhadap Dollar AS itu membuat biaya pembelian bahan baku atau barang jadi dari luar negeri menjadi lebih mahal, sehingga secara langsung dapat meningkatkan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada impor.
"Kenaikan biaya impor ini berpotensi memicu peningkatan harga barang di tingkat konsumen dan mendorong inflasi lebih tinggi. Disisi lain, sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor akan mengalami tekanan lantaran margin keuntungan-nya menurun," papar Taufan.
Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akibat ketidakpastian global dan eskalasi perang di Timur Tengah. Bahkan pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah sempat tembus ke level Rp 17.300 per dollar AS, meskipun akhirnya ditutup di level Rp 17.286, atau melemah 0,61 persen atau 105 poin dari penutupan hari sebelumnya.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS, memang menjadi tantangan tersendiri bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Karenanya, Pemerintah mendorong penggunaan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) yang disediakan Bank Indonesia dalam transaksi impor.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Rupiah melemah Importir kelimpungan Erwin Taufan
























