Cholid Mawardi, salah satu orang yang menjadi pendiri organisasi PMII (Foto: NU Online)
Jakarta, Jurnas.com - Sejarah besar seringkali dimulai dari ruang-ruang diskusi kecil. Begitu pula dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tepat pada April 1960 di Surabaya, 13 pemuda visioner berkumpul untuk merumuskan sebuah wadah bagi mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU).
Mereka bukan sekadar delegasi daerah, melainkan intelektual muda yang meletakkan fondasi ideologi "Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh".
Berikut adalah profil singkat 13 tokoh pendiri PMII yang dirangkum dari berbagai literatur sejarah pergerakan:
1. Cholid Mawardi (Jakarta)
Tokoh utama yang menjadi motor penggerak pertemuan Surabaya. Ia dikenal sebagai diplomat ulung dan pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di beberapa negara.
Perannya sangat sentral dalam mengomunikasikan urgensi PMII kepada para kiai sepuh NU.
2. Said Budairy (Jakarta)
Seorang jurnalis senior dan intelektual yang sangat tajam dalam pemikiran. Ia adalah sosok di balik perumusan lambang PMII. Said memiliki visi agar mahasiswa NU tidak gagap dalam menghadapi arus informasi dan propaganda politik.
3. Mahbub Djunaidi (Jakarta)
Terpilih sebagai Ketua Umum pertama PB PMII. Dijuluki sebagai "Burung Jalak dari Betawi", Mahbub adalah sastrawan, budayawan, dan kolumnis legendaris. Gaya kepemimpinannya yang santai namun kritis membuat PMII disegani di tingkat nasional.
4. M. Khalid Narbuko (Surabaya)
Merupakan tokoh representatif dari Jawa Timur. Ia berperan besar dalam teknis penyelenggaraan musyawarah di Surabaya dan memastikan basis massa mahasiswa di Jawa Timur mendukung penuh berdirinya PMII.
5. Mansyur Chumaidi (Yogyakarta)
Mewakili kelompok intelektual dari Yogyakarta. Ia membawa warna pemikiran yang moderat dan filosofis ke dalam tubuh PMII, memastikan organisasi ini tetap memiliki kedalaman ilmu pengetahuan.
6. M. Said (Surabaya)
Bersama Khalid Narbuko, M. Said menjadi jangkar pergerakan di wilayah Jawa Timur. Ia aktif dalam mengonsolidasikan kekuatan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya pada masa awal berdiri.
7. Murtadho (Semarang)
Tokoh sentral dari Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam berorganisasi dan sangat memperhatikan aspek kaderisasi sejak dini.
8. Chalid Mansyur (Makassar)
Representasi dari luar pulau Jawa. Kehadiran Chalid membuktikan bahwa PMII sejak awal sudah memiliki visi nasionalisme yang luas dan tidak hanya berpusat di Pulau Jawa (Jawa-sentris).
9. M. Lutfi (Jakarta)
Salah satu pemikir strategis di Jakarta yang banyak memberikan sumbangsih dalam penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi di fase-fase awal.
10. Hilman (Bandung)
Membawa semangat mahasiswa dari tanah Sunda. Ia aktif menjalin komunikasi dengan berbagai elemen mahasiswa di Bandung untuk memperkenalkan visi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di lingkungan kampus umum.
11. Makmun Syukri (Yogyakarta)
Tokoh yang sangat gigih dalam memperjuangkan kemandirian mahasiswa. Bersama Mansyur Chumaidi, ia memperkuat posisi PMII di kota pelajar Yogyakarta sebagai organisasi yang intelektual dan agamis.
12. Hamud Al-Attas (Jakarta)
Seorang aktivis yang memiliki jaringan luas di kalangan habaib dan ulama. Ia berperan dalam menjaga hubungan emosional dan ideologis antara PMII dengan akar tradisi pesantren.
13. Nuril Huda Suaidi (Surabaya)
Tokoh muda yang penuh semangat dan dikenal sebagai sosok yang progresif. Ia merupakan salah satu saksi kunci perdebatan-perdebatan hangat saat nama PMII dipilih mengalahkan usulan nama-nama lainnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
17 April Tokoh Pendiri PMII Harlah PMII Organisasi Mahasiswa




















