Kamis, 16/04/2026 10:26 WIB

Studi Ungkap Batas Suhu Padi, Indonesia Hadapi Ancaman Penurunan Produksi





Padi, yang menjadi makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, kini menghadapi ancaman serius akibat peningkatan suhu ekstrem

Lahan pertanian kekeringan akibat perubahan iklim (jurnas/Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Padi, yang menjadi makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, kini menghadapi ancaman serius akibat peningkatan suhu ekstrem. Sebuah studi terbaru dari University of Florida mengungkap bahwa perubahan iklim mendorong tanaman padi melampaui batas toleransi alaminya.

Selama lebih dari 7.000 tahun, padi telah dibudidayakan di berbagai wilayah dengan kondisi iklim berbeda. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan tanaman ini untuk beradaptasi terhadap suhu panas ternyata sangat terbatas.

Hasil studi menyebutkan bahwa padi jarang tumbuh optimal pada suhu rata-rata tahunan di atas 28 derajat Celsius. Selama masa tanam, gangguan mulai terjadi ketika suhu melebihi 33 derajat Celsius, dan pada suhu mendekati 40 derajat Celsius, tanaman bahkan kesulitan untuk bertahan hidup.

DIkutip dari Earth, peneliti utama, Nicolas Gauthier, menjelaskan bahwa pada titik tertentu, tanaman padi secara fisik tidak lagi mampu berfungsi akibat panas berlebih.

Penelitian ini menggabungkan data pertanian modern, pengamatan satelit, serta kajian fisiologi tanaman. Selain itu, tim peneliti juga menelusuri lebih dari 800 situs arkeologi di Asia untuk memahami bagaimana padi beradaptasi terhadap perubahan iklim selama hampir 9.000 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa padi tidak pernah benar-benar beradaptasi dengan suhu yang lebih panas. Ketika kondisi lingkungan berubah, tanaman ini cenderung berpindah ke wilayah yang lebih sejuk, bukan mengembangkan toleransi baru terhadap panas.

Sebagai contoh, penyebaran padi ke wilayah seperti China, Korea, dan Jepang terjadi melalui pengembangan varietas yang lebih tahan terhadap suhu dingin, bukan panas.

Namun, kondisi saat ini berbeda. Proyeksi iklim menunjukkan bahwa pada akhir abad ini, wilayah dengan suhu di atas 28 derajat Celsius akan meningkat drastis, bahkan hingga 10 hingga 30 kali lipat di negara-negara penghasil padi utama.

Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang saat ini menjadi pusat produksi padi dunia, diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi keberlanjutan produksi pangan.

Penelitian juga mengungkap bahwa banyak varietas padi yang ada saat ini kemungkinan tidak akan cocok dengan kondisi iklim di masa depan. Meski terdapat upaya adaptasi seperti pengembangan varietas tahan panas dan penyesuaian waktu tanam, solusi tersebut memiliki keterbatasan.

Negara-negara di wilayah selatan, termasuk Indonesia dan Malaysia, diperkirakan akan menjadi yang paling terdampak. Petani kecil yang bergantung pada padi sebagai sumber penghidupan dinilai paling rentan, terutama karena keterbatasan akses terhadap teknologi dan varietas baru.

Dampak dari penurunan produksi padi tidak hanya akan dirasakan di sektor pertanian, tetapi juga dapat memicu gangguan pada sistem pangan global, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Para peneliti menekankan bahwa tantangan ke depan bukan hanya bagaimana menanam padi di dunia yang lebih panas, tetapi juga bagaimana menjaga keberlangsungan masyarakat yang bergantung pada tanaman ini. (*)

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Communications Earth & Environment.

KEYWORD :

Batas Suhu Padi Produksi Padi Suhu Ekstrem Perubahan Iklim




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :