Kamis, 16/04/2026 09:51 WIB

Konsumsi Makanan Ultraproses Bisa Merusak Kualitas Otot Secara Perlahan





Sebuah studi terbaru mengungkap konsumsi makanan ultra-proses tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan otot

Ilustrasi - Kram otot (foto: Pexels/Towfiqu barbhuiya)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan pola makan modern yang semakin bergantung pada makanan instan dan ultra-proses kini menjadi sorotan para peneliti. Tidak hanya berdampak pada lingkar pinggang, konsumsi makanan jenis ini juga diduga dapat merusak kualitas otot secara perlahan.

Saat ini, makanan kemasan, makanan beku, hingga minuman manis semakin mendominasi keranjang belanja masyarakat. Meski praktis dan memiliki rasa yang kuat, para ilmuwan mulai mempertanyakan dampak jangka panjangnya terhadap tubuh.

Dikutip dari Earth, sebuah studi terbaru mengungkap konsumsi makanan ultra-proses tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan otot. Penelitian ini menyoroti bagaimana pola makan dapat memengaruhi struktur otot, bahkan sebelum muncul gejala penyakit.

Peneliti dari Universitas Ankara, Zehra Akkaya, menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir penggunaan bahan alami dalam makanan semakin berkurang dan digantikan oleh produk industri yang diproses secara kimiawi.

“Seiring meningkatnya prevalensi obesitas dan osteoartritis lutut, konsumsi makanan yang diproses secara industri juga terus meningkat,” ujarnya.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data dari 615 orang dewasa yang belum menunjukkan tanda-tanda jelas osteoartritis lutut. Mereka membandingkan pola makan peserta dengan hasil pemindaian otot paha menggunakan teknologi MRI.

Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata 41 persen asupan makanan peserta berasal dari makanan ultra-proses. Semakin tinggi konsumsi makanan tersebut, semakin besar pula penumpukan lemak di dalam jaringan otot paha.

Penumpukan lemak ini tidak selalu terlihat dari luar, namun dapat memengaruhi fungsi otot secara bertahap. Otot yang seharusnya kuat bisa mengalami penurunan kualitas, sehingga berdampak pada kemampuan bergerak dan meningkatkan tekanan pada sendi.

Menariknya, perbedaan kualitas otot tetap terlihat bahkan pada individu dengan usia dan berat badan yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas makanan memiliki peran penting, tidak hanya jumlah kalori yang dikonsumsi.

Para peneliti menekankan bahwa diet sehat tidak cukup hanya berfokus pada pengurangan kalori atau penurunan berat badan. Kualitas nutrisi juga harus menjadi perhatian utama, terutama untuk menjaga kesehatan otot dan mencegah masalah sendi.

Selain itu, makanan ultra-proses umumnya miskin nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan otot. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat penurunan kualitas otot dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Meski penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara konsumsi makanan ultra-proses dan perubahan komposisi otot.

Penelitian juga menemukan bahwa perubahan kualitas otot dapat terjadi sebelum tanda-tanda penyakit muncul, sehingga sering kali tidak disadari.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa pilihan makanan sehari-hari tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga secara diam-diam membentuk kekuatan dan struktur otot tubuh. (*)

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Radiology.

KEYWORD :

Makanan Ultra Proses Kualitas Otot Jaringan Otot Paha




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :